Ngopi Sore
Foto Telanjang Melania Trump
Melania jadi "sumber inspirasi" yang tidak henti-hentinya dieksplorasi oleh lawan-lawan politik Trump.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
DONALD Trump resmi menjadi calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik dan hanya dalam kurun waktu kurang 24 jam dia mendapatkan serangan yang memukulnya sampai terhuyung-huyung. Bukan serangan terhadap dirinya --yang sudah dihantamkan padanya berkali-kali dan karena itu (barangkali) membuatnya "kebal". Melainkan istrinya, Melania Trump.
Melania merupakan istri ketiga Donald Trump. Sebelum menyandang nama Trump, perempuan ini lebih dikenal sebagai Melania Knauss. Satu nama panggung di dunia model. Dia lahir sebagai Melania Knavs, di Novo Mesto, Slovenia, Yugoslavia, 26 April 1970.
Dengan kata lain, Amerika kembali berpotensi memiliki ibu negara yang datang dari kalangan selebriti. Namun di sinilah letak masalahnya. Para penyerang Trump lantang meneriakkan Melania tidak pantas menjadi First Lady (Ibu Negara).
Amerika Serikat pernah punya Anne Frances Robbins yang dibanggakan dan dicintai. Selama delapan tahun, Anne Frances Robbins, atau lebih dikenal dengan nama sapaannya yang lebih pendek: Nancy, mendampingi suaminya, Ronald Reagen, di Gedung Putih.
Nancy adalah aktris. Dan sebagaimana Ronald Reagen, bukan selebritis yang terlalu besar dan terlalu populer di masa aktifnya. Hanya 13 film layar lebar dan sejumlah film televisi kelas dua, tanpa penghargaan. Sama sekali tidak gemerlap. Kalah jauh, misalnya, jika dibandingkan Grace Kelly yang diperistri Pangeran Rainer III dari Monaco.
Pertanyaannya, jika rakyat Amerika menerima Nancy yang bukan artis besar dan tidak populer dan tak pernah sekalipun mendapat Oscar atau Golden Globe, kenapa mereka menolak Melania? Apakah lantaran statusnya yang sekadar merupakan istri ketiga? Ataukah lantaran dia pernah mengetengahkan pidoto yang ternyata merupakan plagiat dari pidato Michelle Obama --dan dia sama sekali tidak tahu bahwa pidato itu plagiat, bahkan setelah banyak yang meributinya?
Selama ini, seluruh Ibu Negara Amerika Serikat berstatus istri pertama. Akan tetapi, walau pernah dipersoalkan, status istri bukan menjadi perkara terbesar. Lantas apa? Soal keartisan Melania.
Nancy memang bukan artis dengan sederet gelar prestisius, tapi dia bermain di film-film yang "aman", film yang "tidak bermasalah". Film tentang perang, film cowboy, atau sekadar drama cinta-cintaan yang "wajar" dan "normal".
Melania? Bermula dari satu kiriman di Twitter yang membelalakkan mata. Kiriman ini, yang kemudian dituliskan dengan tanda pagar (#) MelaniaNude, dengan cepat beranjak jadi trending topic dan menyebar luas ke media-media sosial lain, terutama sekali Facebook dan Instagram.
Trending-trending topic dengan tanda pagar yang lain juga muncul di Twitter. Intinya sama. Satu demi satu, foto-foto lama Melania (rata-rata berasal dari pemotretan di tengah tahun 1990an sampai awal 2000an) saat berpose seronok untuk sejumlah penerbitan, ditampilkan ulang.
Gelombang ketertarikan dan reaksi yang riuh dari para pengguna media sosial membuat media- media cetak, media dalam jaringan, dan media elektronik, ikut-ikutan. New York Post melakukan pendalaman yang lebih "iseng". Mereka berhasil mendapatkan foto-foto Melania saat berpose bugil untuk majalah Perancis, Max, di tahun 1996.
Sebelumnya, GQ edisi U.K (Inggris Raya), entah atas pertimbangan apa, menampilkan ulang foto-foto Melania saat dipotret dengan pose-pose serba aduhai untuk penerbitan mereka di bulan Januari 2000, lalu memberinya judul multi interpretasi: "The Future First Lady? See Melania Trump's nude photo shoot".
Begitulah, Melania sekarang jadi "sumber inspirasi" yang tidak henti-hentinya dieksplorasi oleh lawan-lawan politik Trump. Bukan cuma dari Partai Demokrat dan para pendukung Hillary Clinton, tapi juga dari Partai Republik sendiri. Sudah bukan rahasia bahwa pencalonan Donald Trump sebagai presiden tidak mendapat dukungan penuh dari petinggi-petinggi partai ini.
Sampai di sini mencuat satu pertanyaan. Apakah serangan terhadap Melania akan memberi pengaruh yang signifikan terhadap suara Donald Trump? Mungkin iya, tapi bisa jadi tidak. Bisa jadi malah sebaliknya. Akan mendongkrak. Amerika pernah memaafkan Bill Clinton, suami Hillary, yang nyata-nyata selingkuh dengan Monica Lewinski, pegawai magang di Gedung Putih. Bill lepas dari ancaman pemakzulan dan tingkat elektabilitasnya melesat dan ini sempat dimanfaatkan oleh Hillary saat dia bersaing dengan Barrack Obama pada Konvensi Nasional Partai Demokrat tahun 2008.
Hillary, saat itu, mencitrakan dirinya sebagai perempuan berjiwa besar yang memilih memaafkan untuk menyelamatkan keutuhan keluarganya sekaligus Amerika Serikat. Dengan pendekatan yang sama, Trump juga bisa melakukannya. Misalnya dengan mengkampanyekan kata 'kesempatan' atau 'persamaan hak', barangkali. Bahwa tiap-tiap warga negara (Amerika Serikat) memiliki hak yang sama dalam hukum dan pemerintahan, sehingga tentu saja, seorang model yang pernah berfoto telanjang pun punya hak dan kerenanya harus diberi kesempatan untuk menjadi ibu negara.
Namun ada satu pelajaran penting yang bisa ditarik dari kehebohan yang sangat riuh ini. Pelajaran bagi orang-orang yang memiliki cita-cita jadi pemimpin pemerintahan. Tak terkecuali di Indonesia. Bahwa jika memang Anda sekalian menyimpan keinginan suatu ketika kelak menjadi bupati, wali kota, gubernur, atau presiden, maka sejak awal Anda mesti mempersiapkan diri dengan cermat dan teliti.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/foto-binik-trump_20160802_205042.jpg)