Ngopi Sore

Baik-baik di 'Penjara', Bang Saut

Saut Situmorang barangkali tidak pernah menyangka polemik sastra yang diletupkannya membuat dia harus menerima hukuman.

Baik-baik di 'Penjara', Bang Saut
youtube
SAUT Situmorang 

PERJALANAN pergi-pulang Jakarta-Jogja yang dilakoni Saut Situmorang, berakhir hari ini. Kamis, 8 September 2016, hingga sekurangnya sepuluh bulan ke depan, dia akan berada di "penjara".

Bukan penjara betulan tentu saja. Itulah sebab kenapa saya menuliskannya dengan menyertakan tanda angkut ("). Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur memutuskan penyair dan kritikus sastra ini bersalah melakukan tindak kejahatan penghinaan dan pencemaran nama baik terhadap seorang perempuan ibu rumah tangga bernama Fatin Hamama. Dan atas ini dia dihukum 10 bulan masa percobaan.

Artinya, Saut bersalah tapi tak perlu masuk bui. Namun dia berada di bawah pengawasan. Apabila dalam kurun 10 bulan kembali melakukan kesalahan yang sama, maka dia akan dijebloskan ke penjara betulan selama lima bulan.

Sekali lagi, Saut dipersalahkan menghina dan mencemarkan nama baik perempuan. Terlepas dari putusan pengadilan, tentu saja, sebagai warga negara kita tetap punya hak untuk bertanya. Benarkah demikian? Apakah Saut melakukan tindakan asusila sebagaimana yang diduga dilakukan penyair lain bernama Sitok Srengenge? Apakah dia dipersalahkan menghina dan mencemarkan nama baik perempuan karena menidurinya dan membuatnya hamil sampai beranak?

Tidak! Saut dipersalahkan berbuat kejahatan lantaran menuliskan kata 'bajingan' dan kalimat 'seperti lonte tua yang tak laku' di Facebook. Kata dan kalimat yang melesat pascafriksi dan perdebatan antara dirinya dan Fatin Hamama makin memanas. Perdebatan yang berangkat dari gugatan Saut atas penerbitan buku berjudul '33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh', yang antara lain memuat nama Denny Januar Ali (JA), konsultan politik dan pemilik lembaga survei.

Saut berang bukan kepalang karena Denny JA "menyingkirkan" nama-nama seperti Sitor Situmorang, AA Navis, Hamsad Rangkuti, Wiji Thukul, dan Seno Gumira Ajidarma. Saut tak sepakat dengan pengidentifikasian model begini. Dia kerap mengejeknya sebagai pekerjaan yang sontoloyo dan tak bermanfaat. Pun sekiranya tetap harus dikumpulkan, dijajarkan dan diletakkan dalam urutan-urutan, menurut dia, nama-nama tersebut jauh lebih pantas disebut 'Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh' ketimbang Denny JA.

"Bagaimana mungkin orang yang baru menulis beberapa puisi yang lalu ia terbitkan sendiri bisa disejajarkan dengan Amir Hamzah dan Chairil Anwar?" kata Saut. Dan dia kemudian berteriak lantang. "Ini buku sampah!"

Fatin Hamama sendiri pada dasarnya bukanlah ibu rumah tangga biasa. Bukan sebangsa gadis mahasiswa biasa, yang terlepas apakah benar diperkosa atau memang suka sama suka, pernah ditiduri dan dibikin bunting sampai beranak oleh Sitok Srengenge, misalnya.

Fatin adalah penyair juga. Ia pernah membacakan puisi-puisi di sejumlah panggung dan tercatat sebagai pengurus satu komunitas sastra yang punya banyak cabang dan anggota di seluruh Indonesia. Dan perseteruan di antara mereka mencuat setelah Saut menuding Fatin sebagai makelar bagi penerbitan buku yang dinilainya sampah tadi.

Tudingan Saut bukan tudingan gelap mata. Terdapat rekam jejak yang memang membuat tudingan termungkinkan.
Denny JA bukan cuma menerbitkan sendiri puisi-puisi yang dikenalkannya sebagai 'puisi esai'. Dia juga menjadi sponsor bagi sayembara 'puisi esai' dan penerbitan sejumlah buku 'puisi esai'. Dan Fatin disebut-sebut terlibat di dalamnya.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved