Ngopi Sore
Menyangsikan Keimanan Buya Syafi'i Maarif
Bagaimana mungkin ada orang yang terpelajar dapat mengambil kesimpulan yang demikian terburu-buru dan gegabah pula?
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Kita mungkin akan bilang tidak. Orang yang beriman tak mungkin membunuh dan orang beriman pasti malu telanjang apalagi sampai direkam bercinta untuk tontonan umum. Namun bukankah nilai-nilai keimanan merupakan prerogatif Tuhan?
Karena itu pula, terlepas dari kecendekiaan ke-Islam-an mereka yang sudah sangat masyhur, bisa jadi Ustaz Quraish memang tidak beriman, tidak tertutup kemungkinan Buya Syafi'i memang tidak beriman, tetapi kita manusia tak punya hak menilai. Terlebih-lebih penilaian tersebut sekadar dilatarbelakangi ketidaksepahaman terkaitpaut sikap dan pandangan politik (yang dihubung-hubungkan dengan agama) dalam ruang lingkup Pemilu Gubernur Jakarta.
Saya kira itu akan jadi konyol sekali. Sama konyolnya dengan menyimpulkan dan lantas mengelu-elukan para jenderal sebagai pembela dan pejuang Islam hanya dari satu pernyataan --yang sebenarnyapun tidak terlalu terang-- di acara berbual-bual di televisi.
Begitulah. Saya tidak tahu akan sampai ke titik mana fenomena yang sungguh aduhai ini akan melejit. Melihat apa yang terjadi di hari-hari belakangan, saya kira lejitannya belum dapat diprediksi dan sangat boleh jadi akan sampai di titik yang tak terduga.
twitter: @aguskhaidir
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/syafeiii_20161111_173912.jpg)