Breaking News:

Ngopi Sore

Aleppo, Twitter Bana al-Abed, dan Peluru dari Mevlut Altintas

Perang besar tidak selalu berawal dari titik nol. Seringkali justru melesat dari tempias persoalan lain.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/HURRYET/HASIM KILIC
PENEMBAKAN Duta Besar Rusia di Ankara, Turki, Selasa (20/12/2016) 

Dua jam kemudian, tepatnya 10.28, ganti Fatemah melempat cuit. Our house and area fall to the army. We are trapped under bombs that didn't stop since last night.

Gambaran yang mengerikan. Terlepas dari kecurigaan lain yang berkembang perihal kesan "pembiaran" pemakaian sambungan intenet dan media sosial oleh kedua belah yang bertikai (satu hal yang jelas sangat aneh untuk tidak menyebutnya sebagai anomali perang), sekali lagi, gambaran yang diketengahkan Bana dan Fatemah sungguh mengerikan.

Kota yang hancur. Gedung-gedung yang roboh. Nyawa yang melayang. Keluarga yang tercerai berai. Dan ini semua hanya karena perebutan kekuasaan? Ataukah ada sebab lain? Seperti ditulis Goenawan Mohamad dalam Misalkan Kita di Sarajevo, satu persaksian perihal perang saudara yang meluluhlantakkan Yugoslavia jadi remah-remah roti: keyakinan dipasak di atas mihrab dan lumbung gandum?

alepppoooo2

Perang besar tidak selalu berawal dari titik nol. Seringkali justru melesat dari tempias persoalan lain. Sebagaimana Yugoslavia, perang di Suriah juga perang antar saudara dan bergerak dari sengketa kelompok.

Menyebut perang di Suriah sebagai upaya pemerintah meredam kelompok pemberontak adalah penyederhanaan masalah. Sebab pada dasarnya, gejolak Suriah disulut oleh banyak kelompok yang memiliki banyak kepentingan pula.

Kelompok-kelompok yang berdiri di wilayah putih, hitam, dan abu-abu. Dan pemerintah Suriah di bawah pimpinan Presiden Bashar al-Assad, calon dokter gigi yang dipanggil pulang dari Inggris lantaran Basil al-Assad, "putera mahkota" sebenarnya, meninggal dunia dalam kecelakaan mobil, berada di tengah-tengahnya sebagai musuh bersama.

Dari sengketa demi sengketa ini api persoalan membesar dan melebar. Kekuatan-kekuatan utama di belahan dunia lain masuk ke Suriah dan mengambil posisi saling berseberangan. Apakah mereka menjadi pembela dan penentang Basil al-Assad? Sekilas pintas terlihat demikian. Namun tentunya tidak sesederhana itu. Politik kawasan teluk dan minyak, adalah hal-hal yang tak boleh diketepikan.

Sudah barang tentu banyak yang membantah. Sudah barang tentu banyak yang tetap bersikukuh mengatakan bahwa perang di Suriah merupakan perang dalam ruang lingkup yang sempit. Agama, yakni (upaya penegakan) khilafah versus (kolonialisme baru) kapitalisme. Islam lawan kafir yang dicampurtangani komunis.

Perkara kejanggalan bahwa kelompok pemberontak yang ditengarai sebagai ISIS justru dibantu Amerika dan sekutu-sekutunya, termasuk Amerika Serikat dan Turki, dan sebaliknya pasukan Pemerintah Suriah mendapatkan sokongan Rusia dan Iran, tak terlalu banyak dicermati dan jadi bahan telaah.

Lalu, sekonyong-konyong pada Selasa pagi, 20 Desember 2016, Andrei Karlov ditembak mati. Andrei Korlov, Duta Besar Rusia untuk Turki, ditembak mati saat menghadiri pameran lukisan di galeri yang terletak di jantung Ankara. Penembaknya Mevlut Mert Altintas, lelaki 22 tahun yang bekerja sebagai polisi. Dia warga negara Turki. Usai menembak, Melvut meneriakkan kata- kata yang diduga terkaitpaut dengan keterlibatan Rusia di Aleppo.

alepppoooo3
PENEMBAKAN Duta Besar Rusia di Ankara, Turki
Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved