Ngopi Sore

Akankah di Tahun 2017 Kita Lebih Gaduh ?

Ada rupa-rupa kegaduhan. Yakni kegaduhan dadakan, kegaduhan terjadwal, dan kegaduhan terstruktur.

Akankah di Tahun 2017 Kita Lebih Gaduh ?
kompas.com
ILUSTRASI 

Gestapu dan Gestok, apalagi jika bukan soal PKI. Pada momentum ini, ingatan akan dilayangkan ke tahun 1965. Ke adegan-adegan dalam film yang disutradarai Arifin C Noer. Ke cerita-cerita para orang tua dulu mengenai kekejaman PKI. Lalu kepada ketakutan-ketakutan kebangkitan PKI dan paham komunisme, yang diketengahkan lewat pemampangan simbol-simbol yang diandaikan mirip dengan palu arit.

Natal dan Tahun Baru? Natal memiliki dua amunisi pemantik kegaduhan sekaligus. Santa Claus dan ucapan selamat. Tahun ini, kegaduhan perihal Santa, karakter rekaan untuk promosi Coca Cola di tahun 1920an, mencapai level yang lebih aduhai. Majelis Ulama Indonesia atawa MUI, mengeluarkan fatwa haram atas peniruan terhadapnya oleh pemeluk Islam, terlebih-lebih apabila hal peniruan ini diberlakukan secara paksa. Fatwa yang kemudian diikuti dengan sejumlah aksi pemantauan dan penindakan oleh organisasi tertentu.

coca cola santa
POSTER Santa Claus dalam iklan yang terbit di Saturday Evening Post di tahun 1920

Amunisi kedua, ucapan selamat, tidak kalah heboh. Perang opini pecah dan berlangsung sengit. Dalil-dalil bertebaran. Inilah momentum ketika para pandai agama bisa dengan sangat mudahnya dikata-katai, dicaci maki, bahkan divonis sekuler, liberal, dan kafir, oleh orang-orang yang belajar agama dari ayat-ayat dan hadist terjemahan yang berseliweran di google dan youtube.

Tahun baru kurang lebih serupa. Ada perang opini yang mengikutsertakan dalil-dalil yang sudah barang tentu akan bermuara pada boleh tidak boleh, halal dan haram. Dan kegaduhan ini masih ditambah pula dengan petuah tentang keborosan.

Ruwet dan menjengkelkan, terlebih-lebih karena ternyata kegaduhan tak berhenti sampai di sana. Keruwetan yang makin bikin jengkel ini masih pula ditambah dengan kegaduhan terstruktur. Kegaduhan yang berangkat dari peristiwa terjadwal dan oleh pihak-pihak tertentu memang betul-betul direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan secara cermat. Kerja yang terstruktur ini, jika berhasil, akan memunculkan kegaduhan luar biasa.

Kegaduhan atas kasus Basuki Tjahaja Purnama, misalnya, diduga terstruktur. Ahok, sapaan populer Basuki, adalah kandidat Gubernur Jakarta, dan pada satu kesempatan pertemuan dengan warga di Kepulauan Seribu, dia teledor mengutip Al Quran, dan dari sini kegaduhan bermula.

Ahok teledor bukan saja karena tafsirnya atas surah Al Quran itu, Surah Al Maidah Ayat 51, tidak pas dan ngawur. Dia teledor lantaran dia bukan muslim. Dia kafir dan sebagai kafir tentunya tidak pantas bagi dia melakukan tafsir terhadap ayat Al Quran, meski pun tafsiran itu sendiri sebenarnya sekadar kutipan, bukan datang langsung darinya. Dan yang lebih krusial. Ahok barangkali lupa bahwa dia kafir yang tak disukai pula, baik lantaran sikap dan kata-katanya yang meledak-ledak dan sering melabrak rambu-rambu kesopanan dari kacamata orang Indonesia, maupun karena dia sering dianggap sebagai "antek-antek" Presiden Joko Widodo.

Keteledoran Ahok, kita tahu, telah berkembang jauh dan melebar kemana-mana. Dia sekarang ditetapkan sebagai tersangka penodaan agama dan disidang di pengadilan. Dan di seluruh penjuru tanah air, jutaan orang turun ke jalan untuk mendesak agar dia segera dijebloskan penjara. Aksi ini mengatasnamakan umat Islam dan pembelaan terhadap Islam.

Saya tidak bilang bahwa jutaan orang yang turun ke jalan adalah bagian dari struktur. Saya sungguh-sungguh percaya bahwa sebagian besar dari mereka turun aksi dengan ikhlas sebagai perwujudan keimanan dan bentuk panggilan jiwa. Struktur, yakni perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian, berada di luar yurisdiksi mereka, namun yang tanpa disadari berkelindan dengan mereka.

Mirip kasus ini, pelaporan terhadap Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab, juga merupakan tindakan terstruktur. Dalam artian ada perencana, ada pelaksana, dan ada pengendali. Jika Ahok disebut menistakan Islam maka Habib dituding menistakan Kristen. Al Maidah 51 berbanding Doktrin Trinitas. Tafsir yang dinilai keliru berbanding tafsir yang juga dinilai keliru. Dan pelaporan pun dibalas pelaporan. Gaduh kontra gaduh.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved