Ngopi Sore
Saudara-saudara TKI, Maafkan Fahri
Bagaimana sebaiknya menyikapi kasus Fahri? Selain telah menghapus cuitannya, Fahri juga sudah minta maaf.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Lalu bagaimana sebaiknya menyikapi kasus Fahri? Selain telah menghapus cuitannya, Fahri juga sudah minta maaf. Dikemukakannya juga, seluruh "kritikan" dia terima dan menjadi introspeksi baginya. Istilah Fahri, introsfeksi positif.
Karena itu, saya kira, persoalan ini tidak perlu diperpanjang. Tak usah dilebarkan dan dikaitkan ke mana-mana. Fahri Hamzah sering bersiteru dengan berbagai pihak dan --sepanjang pengetahuan saya-- jarang meminta maaf. Termasuk saat berselisih dengan PKS. Fahri bukan saja tidak memerdulikan SK Pemecatan yang ditandatangani Presiden PKS dan tetap ngotot duduk di kursi Wakil Ketua DPR RI, dia juga menuntut balik ke pengadilan. Dia menuntut PKS membayar ganti rugi materiil dan imateriil sebesar lebih dari Rp 500 miliar.
Maka ketika sekarang Fahri bersedia meminta maaf, itu pertanda dia menyadari bahwa apa yang dilakukannya memang salah. Maka maafkanlah dia, wahai saudara-saudara TKI. Dia barangkali sedang khilaf saat menyebut Anda sekalian "mengemis (untuk) jadi babu di negeri orang". Tak perlu sampai dilapor-laporkan segala.
Sudah terlalu banyak aksi lapor-melaporkan dan itu semua cuma bikin negeri terkasih ini jadi semakin tidak aduhai.(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/fahri-hamzah1_20170125_183308.jpg)