Baca Edisi Eksklusif Tribun Medan

Kisah Pembunuhan Kuna, Anak Rawi Kerap Mengigau saat Tidur

"Mayat abang kami itu kotor sekali. Waktu saya lihat di rumah sakit, tubuhnya penuh pasir. Saat akan kami makamkan, kepala belakangnya hancur,"

Tribun Medan/Jefri
Foto Kuna di kediamannya 

Dalam mimpinya, Viriel mengaku didatangi sang ayah dan menyuruhnya mandi.

"Selama hidup, abang itu orangnya pembersih. Kalau pagi, semua anak-anak disuruh mandi. Kalau enggak mau, biasa abang marahi anak-anak," kata Lia sesenggukan. Saat tersentak dari tidur, Viriel langsung bangkit dari tempat tidur. Ia kemudian mencari ayahnya.

"Gimana kami enggak sedih. Begitu anak-anak ini terbangun, mereka tanya di mana bapaknya. Apa yang mau saya jawab lagi. Bapak anak-anak sudah enggak ada," ungkap Lia. Hal serupa juga ditunjukkan Verun. Anak ketiga

Rawi tersebut sempat demam tinggi, ketika ayahnya meninggal dunia.

"Bang Rawi ini paling sayang sama anak yang paling kecil ini (Verun). Tiap pagi, setelah mandi, dia selalu kasih teh sama Verun. Sejak bapaknya enggak ada, Verun ini nangis terus," ungkap Lia.

Saking rindunya, Verun yang masih berusia satu tahun delapan bulan ini minta berlama-lama di depan foto ayahnya, yang dikalungi bunga. Verun yang belum mengerti apa-apa ini mengira sang ayah masih ada.

"Karena abang biasa nyulangi Verun teh, sekarang Verun ini yang nyodorkan teh ke foto ayahnya. Dia sibuk nyuruh kasih teh ke foto bapaknya," ungkap Lia dengan suara parau dan terisak-isak.

Pascakepergian Rawi, Lia pun bingung harus bagaimana membiayai ketiga anaknya. Tak ada harta yang ditinggalkan Rawi, selain kenangan.

"Ini yang terus saya pikirkan. Gimanalah saya cari uang untuk makan dan sekolah anak-anak. Apapun enggak ada sekarang ini," kata Lia.

Bangun Malam

Selain dirindukan anak-anaknya, Rawi juga dirindukan sang ibu, Licemi. Sangkin rindunya terhadap sang anak, Licemi kerap terbangun di malam hari.

"Mamak kami pun nangis terus sejak abang enggak ada. Jam dua atau jam tiga pagi, mamak terbangun panggil-panggil nama bang Rawi," ungkap Reka. Ia mengatakan, Rawi adalah sosok kakak yang paling baik di keluarga.

Rawi adalah tempat mengadu adik-adiknya apabila kesusahan.

"Abang kami ini memang enggak punya apa-apa. Tapi kalau untuk keluarga, apapun dibuatnya. Hanya sama dialah kami mengadu kalau punya masalah," ungkap Reka.

Menurut Reka, sebelum menjabat sebagai ketua organisasi, Rawi pernah bekerja sebagai debt collector.

"Kami ini dulunya sangat-sangat susah. Mau makan saja pun kami payah. Itulah, abang kenal sama Pak Ungkap. Dari sanalah dia dapat uang selama bekerja. Semua uang yang didapatnya, itulah yang dikasihkan sama kami," ujar Reka kemudian menangis.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved