Baca Edisi Eksklusif Tribun Medan
Kisah Pembunuhan Kuna, Anak Rawi Kerap Mengigau saat Tidur
"Mayat abang kami itu kotor sekali. Waktu saya lihat di rumah sakit, tubuhnya penuh pasir. Saat akan kami makamkan, kepala belakangnya hancur,"
Sejak perkenalan Rawi dengan Ungkap, ekonomi keluarga mulai membaik. Yang tadinya untuk makan pun susah, belakangan Rawi sudah bisa memberikan uang kepada ibu dan adik-adiknya.
"Setelah beberapa tahun bekerja dengan Pak Ungkap, abang akhirnya berhenti. Kebetulan, Pak Ungkap itu sudah meninggal dunia," kata Reka.
Namun, beberapa tahun lalu, Rawi sempat berkenalan dengan Siwaji Raja alias Raja Kalimas, terduga otak pelaku penembakan Kuna, saat mendiang Ungkap membuat acara. Daris analah Rawi berteman dengan Raja Kalimas, meskipun pihak keluarga menyebut antara Rawi dan Raja tidak ada kaitannya dengan kasus penembakan Kuna.
"Abang kenalan sama Pak Raja itu sebelum Pak Ungkap meninggal. Kalau soal penembakan itu, saya rasa enggak ada hubungannya, meskipun abang kenal sama Pak Raja," kata Reka.
Meski Rawi sudah tiada, pihak keluarga tetap keberatan dengan perlakuan polisi. Sebab, ketika mati pun, jenazah Rawi cukup memprihatinkan.
Dari keterangan keluarga, ada beberapa luka di tubuh Rawi. Di antaranya di bagian leher seperti bekas sayatan, dan di kepala belakang.
"Mayat abang kami itu kotor sekali. Waktu saya lihat di rumah sakit, tubuhnya penuh pasir. Kemudian, saat akan kami makamkan, kepala belakangnya itu terasa lembek. Seperti hancur," ungkap Reka.
Ia juga sangat menyesalkan tindakan polisi, yang menembak Rawi. Seharusnya, jika pun Rawi memang benar melawan saat ditangkap, polisi cukup menembak di bagian kaki. Kalaulah Rawi membawa senjata tajam seperti yang diklaim polisi, harusnya polisi menembak bagian tangannya saja.
"Kan enggak harus ditembak di bagian dada. Kan bisa disidang dulu," ungkap Reka.
Jikapun di persidangan Rawi dinyatakan bersalah dan dijatuhi vonis hukuman mati, pihak keluarga mengaku terima.
Sebab, kasus yang diduga melibatkan Rawi bisa bisa dengan jelas di persidangan.
Kemudian, di persidangan pula akan terungkap siapa-siapa saja yang terlibat, termasuk adanya dugaan oknum lain dalam kasus ini.
"Kalau mau dihukum mati, kan ada pengadilan. Jadi, untuk apa ada hukum ini. Setidaknya keluarga tahu apa pesan terakhirnya. Ini enggak, abang kami langsung ditembak mati kayak gitu," kata Reka sembari menyeka air matanya.
Reka sembari menyebut tubuh abangnya itu dibelah mulai dari dada hingga ke bagian perut dekat kemaluan.
Meski semua sudah berlalu, keluarga berharap apa yang telah dialami ini tidak terjadi pada masyarakat lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kuna_20170129_214719.jpg)