Kisah Soeharto yang Jarang Diketahui Orang, dari Ultimatum Bu Tien hingga Memeluk Pria

Mien membatin, "Seandainya orang-orang yang dulu diberi pesan oleh Ibu Tien mendengarnya."

Editor: Tariden Turnip
Dokumen
Presiden Soeharto menangis saat lengser 1998 

Baca: Mobil Dinas Wakil Ketua DPRD Goyang-goyang di Pelabuhan, Warga: Kaya Main Kuda-kuda

Mobil Honda CRV pelat merah DP 8 E mojok di ujung Dermaga Tanjung Ringgit, Kecamatan Wara Timur, Kota Palopo, Sulawesi Selatan, Sabtu (4/3/2017) sore.
Mobil Honda CRV pelat merah DP 8 E mojok di ujung Dermaga Tanjung Ringgit, Kecamatan Wara Timur, Kota Palopo, Sulawesi Selatan, Sabtu (4/3/2017) sore. (Tribun Timur/Hamdan)

Baca: Jet Li dan Jacky Chan Disebut-sebut Bakal Bintangi Film Kolosal Sulsel

Baca: Pria Ini Posting Chat Rekayasa Kapolri dan Kapolda Jabar, Sebut Naga Mega dan 9 Naga

Baca: Inilah ‘Kesalahan’ KPU DKI yang Tak Mau Dimaafkan Ahok

Baca: Ahok Datang, Acara Maulid Nabi di Asrama Aceh Foba Bubar

Tak selamanya Ny. Tien serius.

Brigjen Eddie M. Nalapraya, mantan wagub DKI, bercerita tentang pengalamannya sewaktu mendampingi Pak Harto memancing di Pelabuhan Ratu. Ketika mobil hendak berangkat, sang nyonya mengetuk kaca persis di posisi Eddie duduk.

"Siap! Saya Bu," kata Eddie setelah kaca diturunkan.

"Jangan memancing ikan yang rambutnya panjang ya!" pesan Ny. Tien.

Hubungan Eddie dan keluarga Soeharto terbilang dekat. Anak-anakSoeharto mudah merajuk kepadanya untuk memintakan izin bepergian kepada ayahnya.

Baca: Lihat Foto Ini, Banyak yang Berharap Tania dan Tommy Kurniawan Tak Berpisah

Tania dan Tommy Kurniawan
Tania dan Tommy Kurniawan (instagram)

Ketika Eddie melaporkan kenaikan pangkatnya, Ny. Tien Soehartolangsung mengambil sapu tangan dan mengelap bintang di pundak Eddie.

"Sungguh, saya terharu. Tidak ada pengawal lain yang diperlakukan seperti itu."

Lain kisah bersumber dari Des Alwi, tokoh pergerakan asal Bandaneira, Maluku. Des mengenal Soeharto ketika ditugasi oleh ayah angkatnya, Sutan Syahrir, untuk melakukan konsolidasi dengan sesama pemuda perjuangan setelah Indonesia merdeka.

Tahun 1949, saat di Yogyakarta, ia sering berdiskusi dengan para pemuda yang bermarkas di Pathuk. Di situlah ia mengenalSoeharto.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved