Edisi Cetak Tribun Medan

Hampir Setiap Hari Kebanjiran, Warga Pantai Labu Waswas dan Tak Bisa Tidur Nyenyak

Bahkan, beberapa bulan lalu, air laut mendadak naik, sehingga puluhan rumah warga kebanjiran. Mereka pun terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tingg

Tayang:
TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Warga melintas di tepian laut Pantai Labu yang terkikis akibat pengerukan pasir ilegal, di Perairan Pantai Labu, Deliserdang, Rabu (3/5/2017). Masyarakat memohon pemerintah setempat untuk segera memperhatikan kerusakan akibat abrasi yang disebabkan pengerukan pasir pantai yang dilakukan secara ilegal sepanjang 80 meter. 

TRIBUN-MEDAN.COM, PAKAM - Terjadinya proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak atau abrasi yang melanda sejumlah desa di Kecamatan Pantai Labu, Deliserdang, membuat masyarakat resah.

Bahkan, warga waswas hanya untuk sekadar tidur nyenyak pada malam hari.

"Setiap hari kalau pasang rumah kami kebanjiran. Jadi, saya takut nyenyak tidur malam," ujar Asma (50), warga Desa Baganserdang, Pantai Labu, Deliserdang, kepada Tribun-Medan.com, Jumat (29/4).

Asma gelisah setiap kali terjadi hujan deras disertai angin kencang, terutama jika perpaduan itu terjadi pada malam hari.

Bahkan, beberapa bulan lalu, air laut mendadak naik, sehingga puluhan rumah warga kebanjiran. Mereka pun terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Baca: Gara-gara Abrasi Akibat Pengerukan Pasir Luat, Warga Kebanjiran Setiap Air Laut Pasang

Baca: Abrasi di Pantai Labu Semakin Parah, Warga Disarankan Tanam Mangrove di Belakang Rumah

Ia menceritakan, beberapa tahun belakangan, banjir rob semakin parah. Air semakin tinggi ke permukiman warga. Akibatnya, rumah panggung juga tergenang air. Untuk mengatasai masalah tersebut, warga berharap Pemerintah Kabupaten Deliserdang membangun pemecah gelombang.

Selain itu, katanya, abrasi mengakibatkan jalan masuk ke Desa Baganserdang terganggu. Sebab, beberapa ruas jalan kampung terendam air laut. Satu di antaranya Jalan Kuala, yang berada di pinggir laut. Warga terpaksa mencari jalan alternatif, jika ingin berkunjung ke rumah kerabat.

"Kalau dulu, kami kebanjiran setiap pasang besar aja, setahun paling dua kali. Tapi, sekarang hampir setiap hari rumah kami kebanjiran. Apalagi jarak laut sama rumah makin dekat," katanya.

Ia menjelaskan, abrasi terparah terjadi di Desa Baganserdang, kawasan muara. Kerusakan pohon mangrove sangat parah di daerah itu. Jika, Pemerintah Kabupaten Deliserdang tidak peduli, katanya, lama-kelamaan rumah warga bisa hilang.

Tatkala Tribun-Medan.com, berbincang dengan warga, tiba-tiba air laut memasuki permukiman warga. Biasanya, air laut mulai memasuki permukiman warga sekitar pukul 13.00 WIB hingga petang.

Beberapa warga terlihat mengemas beberapa barang, seperti, kursi, sepeda motor dan mobil. Sedangkan, anak-anak terlihat asyik bermain air. Mereka berenang di ruas jalan, yang digenangi air laut.

Hanya dalam hitungan menit, air laut sudah mengenangi permukiman warga dan jalan kampung. Beberapa pengendara sepeda motor, yang melintas, terpaksa mendorong kendaraan mereka, karena ketinggian air mencapai 40 sentimeter.

"Dampak banjir ini, kami capek bersihkan rumah. Setiap hari mengepel lantai rumah dan anak-anak rewel, karena mengalami gatal-gatal. Bahkan, kaki dan tangan anak saya berkudis karena bermain air laut," ujar warga bernama Mala (40).

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved