Ngopi Sore

Kaesang, Dasar Ndeso Kamu!

Kaesang mengukir namanya di media sosial. Lewat Youtube, Facebook, Instagram, dan Twitter. Kaesang termasuk vlogger papan atas. Seorang selebgram.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir

Benarkah begitu? Saya kutipkan utuh kalimat Kaesang.

"Ini adalah salah satu contoh, seberapa buruknya generasi masa depan kita. Lihat saja... (Video itu kemudian menampilkan anak-anak berteriak "bunuh, bunuh, bunuh si Ahok. Bunuh si Ahok sekarang juga").

Di sini aku bukannya membela Pak Ahok. Tapi aku di sini mempertanyakan, kenapa anak seumur mereka bisa begitu? Sangat disayangkan kenapa anak kecil seperti mereka itu udah belajar menyebarkan kebencian? Apaan coba itu? Dasar ndeso (sensor bunyi). Ini ajarannya siapa coba? Dasar ndeso (sensor bunyi).

Ndak jelas banget. Ya kali ngajarin ke anak-anak untuk mengintimidasi dan meneror orang lain. Mereka adalah bibit-bibit penerus bangsa kita. Jangan sampai kita itu kecolongan dan kehilangan generasi terbaik yang kita punya. Untuk membangun Indonesia yang lebih baik, kita tuh harus kerja sama. Iya kerja sama. Bukan malah saling menjelek-jelekan, mengadu domba, mengkafir-kafirkan orang lain. Apalagi ada kemarin itu, apa namanya, yang enggak mau menshalatkan padahal sesama Muslim, karena perbedaan dalam memilih pemimpin. Apaan coba? Dasar ndeso (sensor bunyi)

Kita itu Indonesia, kita itu hidup dalam perbedaan. Salam Kecebong".

Rangkaian kalimat ini terletak di ujung vlog. Di bagian awal, di mana kata 'ndeso' pertama kali muncul dan belum ditutup sensor bunyi, Kaesang menyoroti perihal orang-orang yang meminta proyek kepada pemerintah. Kaesang memberi judul vlog ini #BapakMintaProyek.

Kata 'ndeso' secara harfiah berarti 'desa' atau 'kampung'. Kemudian, seiring perkembangan zaman dan pergaulan, makna lain muncul. Ndeso dimaknai sebagai seorang atau sekelompok orang yang 'kampungan', 'norak', bahkan 'bodoh'. Makna yang melesat jadi populer setelah sering diletuskan komedian Tukul Riyanto alias Tukul Arwana dalam acaranya bincang-bincang Empat Mata (dan Bukan Empat Mata), baik untuk mengolok-olok orang lain maupun dirinya sendiri.

Dari susunan kalimat Kaesang, tak dapat dimungkiri bahwa kata 'ndeso' di sini merujuk pada makna yang anyar. Dan jelas pula dia tidak sedang bercanda. Akan tetapi, apakah benar kata itu dimaksudkan untuk menekankan kebencian, kiranya perlu ditelaah lebih lanjut.

Jika benar benci, kepada siapa dialamatkan? Apakah latar belakangnya? Muhammad Hidayat S bilang kebencian itu dialamatkan kepada ulama atau kelompok masyarakat tertentu. Pertanyaannya, ulama dan kelompok masyarakat tertentu yang mana?

Pembahasan bisa panjang dan bisa merembet kemana-mana dan oleh karena itu saya akan menghentikannya sampai di sini. Biarlah jadi urusan pihak berwajib saja. Polisi akan mendalami laporan Muhammad Hidayat S dan boleh jadi akan meneruskannya ke tahap lebih lanjut. Barangkali Kaesang bersalah. Mungkin juga laporannya yang kelewat konyol dan mengada-ada. Kita lihat bagaimana nanti saja.

Saya memilih membayangkan Kaesang Pangarep tampil bersama Tukul Arwana dalam satu sesi tanya jawab. Saya membayangkan satu momentum Kaesang gagal menjawab pertanyaan secara memuaskan, dan Tukul, dengan nada riang, meletupkan kalimat, "Kaesang, dasar ndeso kamu!", dan para penonton pun tertawa terbahak-bahak.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved