Ngopi Sore

Percik Darah di Jerusalem: Zionis yang Makin Bengis

Pemerintah zionis Isreal sudah mencari gara-gara di kompleks suci umat Islam ini sejak tahun 1969.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/AHMAD GHARABLI
AFP PHOTO/AHMAD GHARABLI SEJUMLAH pemuda Palestina mengangkat jenazah Mohammed Abu Ghannam yang tewas dalam bentrok dengan militer Israel di Jerusalem, 21 Juli 2017. Konflik Palestina dan Israel kembali memanas setelah pemerintah Israel memasang detektor logam di Kompleks Masjid Al- Aqsa yang diikuti larangan melaksanakan salat bagi umat muslim di bawah usia 50, menyusul terbunuhnya dua polisi Israel oleh warga Palestina, dua pekan lalu. 

Rakyat Palestina tentu saja melawan. Dalam keterbatasan mereka terus melawan, mempertahankan wilayah-wilayah status quo yang makin sempit dan terus diganggu itu.

Teranyar, rezim Netanyahu kembali cari-cari perkara dengan mengusik Masjid Al Aqsa. Tempat suci umat Islam sedunia ini terletak di Jerusalem (Yerusalem), kota tua yang juga merupakan pusat peradaban bagi dua agama samawi lainnya, Nasrani dan Yahudi.

Di kota inilah, di Bukit Golgotha, Isa (Yesus Kristus) diyakini disalibkan. Sepanjang tahun, umat kristiani datang ke Jerusalem untuk berziarah di makam Kristus di Gereja Makam Suci (Holy Sepulchure). Di kota yang sama berdiri pula Tembok Barat (Western Wall) atawa Tembok Ratapan, tempat suci dalam kepercayaan Yahudi.

Masjid Al Aqsa (Bayt al-Maqdis) sendiri merupakan satu kompleks yang terdiri dari empat masjid. Disebut juga Kompleks Al Haram Al Sharif. Keempat masjid ini adalah Qubbatu Shakhrakh (Dome of The Rock), Al Qibly, Al Buraq, dan Marwani (terletak di bawah tanah dan dulu disebut juga sebagai Solomon Stables) . Masjid Buraq berbatasan dengan Tembok Ratapan. Adapun Masjid Qibly, sering dipersepsikan sebagai Masjid Al Aqsa, konon karena dari sisi jarak, paling dekat dengan Kabah di Kota Makkah.

KOMPLEKS Al Haram Al Sharif di Jerusalem
KOMPLEKS Al Haram Al Sharif di Jerusalem (www.islamiclandmarks.com)

Pemerintah zionis Isreal sudah mencari gara-gara di kompleks suci ini sejak tahun 1969. Tahun 2000 mereka mencoba mengambil alih kontrol atas akses masuk kompleks.

Satu langkah pengingkaran besar terhadap perjanjian yang memantik huru-hara dan memunculkan rentetan lebih dari 500 bentrok hingga tahun 2015. Puluhan nyawa melayang. Ratusan terluka. Kota yang semestinya suci tak pernah lekang dari bau amis darah.

Kabar terkini dari Jerusalem, lantaran gelombang protes keras yang dilancarkan sejumlah negara di dunia, militer Israel telah menyingkirkan perangkat detektor logam dari pintu-pintu masuk kompleks Masjid Aqsa yang menjadi penyulut kerusuhan sejak akhir pekan lalu. Perangkat ini diletakkan di sana menyusul kematian dua polisi Israel dalam bentrok senjata dengan milisi Palestina.

MILITER Israel menyingkirkan perangkat detektor logam yang sebelumnya dipasang di pintu-pintu masuk menuju Masjid Al Aqsa, di Kota Jerusalem, Senin (24/7) malam waktu setempat.
MILITER Israel menyingkirkan perangkat detektor logam yang sebelumnya dipasang di pintu-pintu masuk menuju Masjid Al Aqsa, di Kota Jerusalem, Senin (24/7) malam waktu setempat. (AFP PHOTO/AHMAD GHARABLI)

Apakah perkembangan ini lantas boleh menyurutkan protes kepada pemerintah zionis Israel? Saya kira tidak. Sebaliknya, justru tak sekadar protes. Kutuk wajib terus dilakukan.

Demi nafsu berahi kekuasaan yang tak padam-padam, mereka membangun kebengisan demi kebengisan dan menjadi pemangsa bagi sesama manusia. Dengan mengatasnamakan janji Tuhan, mereka sesungguhnya telah menjadi pengkhianat-pengkhianat Tuhan.

Persoalannya bagaimana menghentikan Israel? Apakah dengan perang? Perang hanya akan mengalirkan darah lagi di Jerusalem. Hal yang bertentangan dengan hukum Tuhan dan juga wasiat Salahuddin Al Ayubi: Jangan tumpahkan darah, sebab darah yang terpercik tak akan tertidur.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved