Ngopi Sore

Pak Kapolres Lebih Suka Nonton Bokep, Enggak Usah Marah

Kengawuran Pak Kapolres memuncak di kalimat berikutnya. Bilangnya: "orang pada nonton HBO. Nonton bokep. Ngapain nonton berita, he-eh."

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
www.thetimes.co.uk
ILUSTRASI 

ENTAHLAH barangkali karena memang sudah masuk pada masa suram, belakangan ini profesi wartawan kerap dipandang enteng dan buruk pula. Tentu masih belum lekang dari ingatan bagaimana Pak Prabowo Subiyanto, bekas tentara yang pada 2019 nanti, Insya Allah, akan kembali mencalonkan diri sebagai presiden, mengidentifikasi profesi wartawan sebagai profesi yang memprihatinkan.

Gaji kecil sehingga tidak pernah ke mal, kata Pak Prabowo. Barangkali beliau mendapatkan masukan dari para pembisiknya, bahwa kalau pun ada wartawan yang ke mal, paling-paling untuk liputan dan bisa makan siang atau makan malam gratis.

Barangkali begitu. Barangkali juga beliau benar-benar peduli pada nasib wartawan. Bukan rahasia lagi bahwa sampai hari ini, masih ada wartawan yang bekerja dengan gaji yang dua kali lipat lebih rendah dari buruh cuci.

Ucapan Pak Prabowo tak sempat merebak jadi polemik. Tak sampai panjang dan berlarut-larut. Walau tidak sedikit yang sakit hati, sebagian wartawan yang lain justru menganggapnya sebagai lelucon saja.

Termasuk wartawan-wartawan yang gajinya lebih rendah dua kali lipat dari buruh cuci tadi. Mereka bahkan ikut membuat meme-meme, ikut mengunggah dan memampangkannya di halaman akun media sosial masing-masing. Ada juga yang mencetaknya di kaus.

Namun reaksi yang selow seperti ini tidak terulang pada ucapan Budi Asrul Kurniawan. Budi seorang polisi. Dia berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) dan menjabat Kepala Polres Way Kanan, Lampung. Sebaliknya, disambut marah.

Apakah sikap berbeda ini dikarenakan Budi cuma polisi berpangkat AKBP, cuma kapolres, bukan pensiunan jenderal dan "ketua besar" satu partai politik yang sedang melesat ke puncak dan berpeluamg menang pada Pemilu 2019? Mungkin tidak. Ucapan Pak Kapolres disambut marah lantaran dianggap betul-betul menghina. Tafsir kalimat-kalimatnya tunggal. Tidak multi seperti kalimat Pak Prabowo.

Dua wartawan di Lampung, Dedi Tarnando dan Dian Firasa, menyebut Pak Kapolres mencecarkan kalimat-kalimat yang pada intinya, menurut mereka, menghina profesi wartawan. Benarkah demikian? Mari kita cermati satu per satu.

Awalnya adalah satu peristiwa penghentian angkutan batubara oleh warga di Way Kanan. Dedi dan Dian datang meliput, dan Pak Kapolres menolak diwawancarai. Jika berhenti sampai di sini barangkali tak jadi masalah. Banyak narasumber, dengan berbagai alasan, juga menolak diwawancarai. Persoalannya, Pak Kapolres bukan sekadar menolak. Dia menolak sembari mencecarkan kalimat-kalimat pedas menyangkut profesi wartawan dan pers Indonesia secara umum.

"Kalau jelek satu polisi semua polisi dibilang jelek. Sama kayak elo. Wartawan satu jelek ya semua wartawan jelek bagi gue. Selesai urusannya. Sama kita satu sama, oke."

Dedi dan Dian masih berupaya memberikan argumentasi. Pak Kapolres meneruskan amuk. "Kalau gue, tuh, sudah nggak butuh wartawan, jujur saja. Yang baca koran hari ini siapa? Apalagi koran lu Lampung kelas cacingan kayak gitu."

"Follower lu berapa? Lu mau tulis gue kayak apapun silakan. Buktinya gue ditulis kayak gitu juga nggak ada yang ngelihat gue."

"Lu bangun tidur bacanya apa, heh? WA, kan? Mana ada yang baca koran sekarang. Sudah tutup, kok, semua koran itu.

Sampai di sini, patut diduga, bahwa sebelumnya Pak Kapolres pernah bermasalah dengan wartawan. Belakangan mengemuka informasi bahwa kemungkinan penyebabnya adalah satu peristiwa di Tulungbuyut, Gununglabuhan, yang rekamannya beredar di media sosial dan mendapat banyak tanggapan dari warganet. Sebagian besar tanggapan bertendensi negatif dan membuat polisi jadi pesakitan.

Bukan Dedi dan Dian yang membuat rekaman dan menyebarkannya di media sosial. Namun Pak Kapolres terlanjur dongkol, marah, mendendam, dan atas itu menyamaratakan dan memandang semua wartawan brengsek.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved