Rumah Adat Bawomataluo Jadi Ikon Kebudayaan Nias, Ini Buktinya

Rumah Adat Desa Bawomataluo merupakan rumah adat Nias yang masih kokoh dan terjaga kekhasannya

Tayang:
Bawomataluo 

TRIBUN-MEDAN.COM- Rumah Adat Desa Bawomataluo merupakan rumah adat Nias yang masih kokoh dan terjaga kekhasannya tanpa perombakan modernisasi seperti rumah pada umumnya di zaman sekarang.

Rumah adat Nias tersebut bahkan sudah memasuki berusia ratusan tahun dan masih ditempati oleh keturunan penduduk pertama desa tersebut.

Desa tersebut dibuka untuk wisatawan lokal hingga mancanegara, wisatawan yang datang tentu karena tertarik bangunan tua yang ada di sini.

Tapi sepertinya, suasana desa tidak menyadari harapan wisatawan, pasalnya pemandangan jemuran pakaian di atap rumah hingga di batu-batu ukir zaman dulu yang sebenarnya menjadi objek yang mau dilihat wisatawan.

Elda Nasution, pengunjung menuturkan khusus ke sini untuk mengambil foto, mendokumentasikan rumah adat yang katanya menjadi simbol kebudayaan masyarakat Nias.

Masyarakat Nias mempersembahkan sebuah tarian tradisional pada puncak acara kegiatan 'Bawomataluo 2011' yaitu Pagelaran Atraksi Budaya dan Pameran Promosi Hasil Kerajinan masyarakat Nias di Desa Bawomataluo, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan, Sumut, Minggu (15/5/2010). Pagelaran kebudayaan yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut, tersebut disambut antusiasme wisatawan lokal dan mancanegara.
Masyarakat Nias mempersembahkan sebuah tarian tradisional pada puncak acara kegiatan 'Bawomataluo 2011' yaitu Pagelaran Atraksi Budaya dan Pameran Promosi Hasil Kerajinan masyarakat Nias di Desa Bawomataluo, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan, Sumut, Minggu (15/5/2010). Pagelaran kebudayaan yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut, tersebut disambut antusiasme wisatawan lokal dan mancanegara. (TRIBUN MEDAN/DEDY SINUHAJI)

"Tapi sayang sekali, tiap objek baik itu rumah adat, hingga di samping batu lompat pun ada poster. Kita kesulitan mengambil spot foto yang tidak kelihatan posternya," katanya.

Tapi, walaupun begitu ia tetap puas melihat suasana perkampungan yang masih kental.

"Orang tua duduk di balai desa, para ibu menjemur beras, para bapak mengasah alat bertani dan kebersamaan saat pergi ke suatu acara adat," katanya.

Perkampungan antik ini berada di atas bukit di kecamatan Fanayama, terletak pada ketinggian 270 meter di atas permukaan laut ini, dan saat ini dihuni oleh 1310 Kepala Keluarga (KK) mayoritas mata pencaharian penduduk adalah bertani dan membuat kerajinan tangan khas Nias.

Martinus Muarata Fao, keturunan Raja Keenam Loehe Fao yang juga penduduk Desa Bawomataluo menuturkan menuturkan Desa Bawamataluwo merupakan desa adat yang sudah berusia ratusan tahun dan saat ini telah menjadi satu warisan budaya dunia.

Bahkan telah dianugerahi sebagai salah satu Wonder of the World from Indonesia oleh The Real Wonder of the World Foundation.

"Bawomataluo memiliki arti Bukit Matahari ini dan desa ini diperkirakan didirikan antara tahun 1830-1840. Sejak didirikan pula perkampungan dengan deretan rumah adat tradisional atau juga yang disebut Omo Hada ini masih kokoh hingga sekarang," katanya.

 Menurutnya, rumah adat tersebut secara turun menurun dijaga dan tidak diubah oleh pemilik generasi dari turun menurun pula.

Tiap Batu Batu Memiliki Makna di Rumah Raja Nias

Bawomataluo
Bawomataluo ()

 Batu yang menjulang tinggi adalah batu Faulu, batu tanda raja, sebelah kanan adalah batu Loawo sedangkan yang sebelah kiri batu Saonigeho, sementara batu datar adalah batu untuk mengenang kebesaran dan jasa kedua orang raja ini. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved