Liputan Eksklusif
Rektor USU Murka, Dosen dan Mahasiswa akan Dikonfrontir Soal Dugaan Permintaan 'Buah Tangan'
Runtung menyarankan, mahasiswa agar tidak takut memberi penjelasan di hadapan dekan.
MEDAN, TRIBUN - Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) Profesor Runtung Sitepu murka, tatkala mendapat kabar ada oknum dosen yang meminta buah tangan kepada mahasiswa.
Ia langsung memerintahkan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Muryanto Amin, memanggil oknum dosen tetap Administrasi Negara berinisial Nurlela Ketaren untuk didengarkan keterangannya.
Namun, Nurlela Ketaren tetap pada pendiriannya, tidak pernah meminta-minta kepada mahasiswa. Pernyataan itu disampaikan Muryanto, yang mengaku, langsung memanggil yang bersangkutan atas instruksi dari Rektor USU.
"Tadi, dosennya sudah dipanggil dan menceritakan kronologinya, tapi mahasiswanya belum datang dan tidak bisa dihubungi," ucap Muryanto, Senin (21/5). Runtung juga meminta dosen Nurlela Ketaren dan mahasiswa yang melapor untuk dikonfrontir. Hasil konfrontir tersebut akan menentukan langkah rektorat mengambil sikap terkait nasib sang dosen.
"Dilarang keras. Begitu (saya) mengetahui informasi ini, setelah selesai Upacara Hari Kebangkitan Nasional, saya panggil dekan (FISIP) dan memerintahkan hari ini juga memanggil dosen itu untuk dikonfrontir dengan mahasiswa. Saya yang akan menentukan sikap terhadap dosen yang bersangkutan," ucap Runtung ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Senin siang.
Sejumlah mahasiswa USU mengaku, mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari dosen mereka.
Seorang di antaranya, AGS sempat menangis, bahkan nyaris stres, lantaran merasa menghadapi jalan buntu pengerjaan skripsi, karena dipersulit dosen pembimbing.
Padahal tenggat waktu penyelesaian skripsi, untuk mengejar jadwal wisuda makin dekat.
"Bukan sekali dua kali. Saya sampai nangis akhirnya, lantaran tidak tahu lagi harus berbuat apa lagi," ujar seorang mahasiswi saat datang ke Redaksi Tribun Medan beberapa hari lalu.
Ia menceritakan, dosen pembimbingnya Nurlela Ketaren kerap meminta dibelikan barang-barang. Hal itu di luar mekanisme dan proses pengurusan dan penyelesaian skripsi.
Menurut dia, setiap mahasiswa yang berurusan dengan Nurlela Ketaren "mesti" memberi "buah tangan".
Jenis "buah tangan" tersebut harus sesuai keinginan Nurlela Ketaren. Memang, sebutnya, Nurlela Ketaren tak pernah secara terbuka menegaskan "buah tangan" tersebut sebagai perkara wajib, tetapi pada praktiknya justru demikian.
"Diingatkan teman, kayaknya memang sudah budaya ibu itu, kalau datang harus ada membawa makanan dan minuman. Sekali waktu, saya tawarkan Roti Suan's. Soalnya kawan-kawan bilang, ibu itu suka Roti Suan's.
Kebetulan ada teman, yang mulai proses skripsi hingga sidang, sering sama saya menjumpai dia. Jadi tahu seleranya," ucap AS. Nurlela Ketaren merupakan ketua tim pengujinya.
Terkait laporan mahasiswa USU tersebut, Runtung menjelaskan, rencana konfrontir dosen dan mahasiswa bertujuan untuk menentukan sikap terkait nasib sang dosen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/runtung-sitepu_20180521_180328.jpg)