Kedai Tok Awang

Mainkan Salah, Atau Mesir Kembali Kalah

Sebagaimana kecenderungan di Indonesia hari-hari belakangan, para pelanggan kedai Tok Awang juga banyak yang mendadak jadi fans tim nasional Mesir.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/KARIM JAAFAR
PEMAIN tim nasional Mesir, Mohamed Salah, berbincang dengan rekannya dalam sesi latihan di di Grozny, Rusia, kemarin, jelang laga kontra tuan rumah yang digelar Rabu (20/6) dinihari WIB. 

BABAK grup Piala Dunia 2018 sudah mau lewat satu putaran. Tinggal Kolombia, Jepang, Polandia, dan Senegal yang belum main dan mereka akan duel malam nanti. Namun, di kedai Tok Awang, para penonton tetap siaran langsung pertandingan bola, atau orang-orang yang datang dan pergi, atau mereka yang duduk memesan segelas teh manis atau kopi panas dan tak pergi-pergi hingga berjam-jam lamanya, sudah bergerak satu langkah ke depan.

Tentu, Kolombia versus Jepang dan Polandia kontra Senegal tetap jadi bahan bahasan. Para bandar kelas teri tetap membuka bursa dan para petaruh kelas teri menyerahkan uang mereka yang tak seberapa dengan harapan siapa tahu nasib sedang beruntung.

Tentu pula masih ada yang membahas kegagalan Lionel Messi menuntaskan tendangan penalti, atau tentang kekalahan Jerman dari Meksiko, atau rambut Neymar yang mirip mi instan goreng dan dijadikan sebagai syakwasangka, betapa model mutakhir inilah yang menyebabnya loyo dan tak berdaya di hadapan pemain-pemain Swiss. Namun, di kedai Tok Awang, bahasan-bahasan tersebut sudah kalah ramai dibanding bahasan laga Rusia melawan Mesir, dini hari nanti.

Begitulah, sebagaimana kecenderungan di Indonesia hari-hari belakangan, para pelanggan kedai Tok Awang juga banyak yang mendadak jadi fans tim nasional Mesir. Penyebabnya, tiada lain dan tiada bukan, adalah Mohamed Salah.

Sangkot, mantan sopir angkot yang sekarang banting setir menjadi sopir taksi online, sampai hari ini bahkan masih menaruh dendam pada Sergio Ramos. Baginya, Ramos patut dihukum bui lantaran tindakannya yang membuat sendi bahu Salah bergeser di pertandingan final Liga Champions. Dia sampai berteriak-teriak dan melompat ke atas meja saat Cristiano Ronaldo membobol gawang David de Gea untuk menjadikan skor Portugal dan Spanyol imbang 3-3.

"Kalaulah sampai Salah tetap belum bisa main, kudoakan Spanyol kalah melawan Iran dan Maroko dan tak lolos babak penyisihan grup," kata Sangkot dengan nada keras, lalu meminum teh manis panasnya yang sudah beralih rupa jadi es teh manis berkat lobi-lobi cantik dengan Ocik Nensi, pujaan hati belahan jantung Tok Awang sejak 48 tahun lalu, pada 28 Juni, tepat sepekan setelah Brasil menggulung Italia 4-1 Stadion Azteca, Meksiko, untuk meraih Piala Dunia mereka yang ketiga.

Omelan Sangkot disambut celetuk Zainuddin. "Bah, macam mananya kau ini, Kot. Macam baru kemarin sore kau nonton bola kulihat," katanya.

"Tahunya awak maksud Pak Guru, tapi, macam mana lagilah mau awak bilang. Memang emosi kali awak dibikin Si Ramos itu," ucap Sangkot menimpali.

Orang-orang di Kedai Tok Awang memanggil Zainuddin Pak Guru walau sejatinya dia sudah lama berhenti mengajar lantaran tak kunjung diangkat PNS dan beralih profesi jadi agen asuransi. Kadang-kadang, jika sedang musim durian, dia ikut membuka lapak dadakan.

Di antara semua penonton tetap siaran langsung pertandingan bola di kedai Tok Awang ("komunitas" yang mulai terbentuk setelah Tok Awang membeli televisi layar lebar dan berlangganan TV Kabel), Zainuddin dikenal paling piawai bicara teknis. Saking piawainya, sejumlah orang juga memanggilnya Bung Kus --sapaan populer untuk M Kusnaeni, komentator sepakbola langganan beberapa stasiun televisi di Indonesia.

Imbang bagi Zainuddin adalah Wak Razoki, Mak Idam, dan Ane Selwa. Ketiganya juga paham banyak teori dan seluk-beluk sepakbola. Jika keempatnya kebetulan bertemu satu meja, keriuhan percakapan mereka mirip dengan Andy Gray, Richard Keys, Gary Lineker, dan Jamie Redknapp, yang kerap bersitegang urat leher saat tampil sebagai komentator di stasiun-stasiun televisi Inggris.

"Emosi boleh emosi, Kot, tetapi jangan sampai bikin kau berselemak. Bola itu memang bundar, artinya, apapun bisa terjadi di lapangan. Namun, secara teknis, mau kau tengok dari sisi manapun, Iran dan Maroko belum sampai level Spanyol. Mereka bukan Meksiko dan Swiss yang bisa bikin Jerman dan Brasil berserak-serak," ucap Zainuddin.

"Sa setuju itu, Kaka Guru. Sa tetap pegang Spanyol bisa sampai ke final. Namun untuk Salah, sa pikir dia orang memang harus main nanti lawan Rusia," sahut Pace Pae, pemuda asal Oksibil, satu distrik di Pegunungan Bintang, Papua. Setamat SMA, Pae kuliah di Medan.

"Itu saya sepakat, Pace," kata Zainuddin. "Walau sepakbola pada dasarnya permainan tim, sosok pemain bintang sangat diperlukan. Bukan melulu karena permainannya. Seringkali kehadiran dia di lapangan bisa jadi motivasi dan penambah semangat bagi pemain lain."

"Rusia itu main ngeri, Kaka Guru. Sa pikir mereka bisa bersaing, bukan cuma main di Piala Dunia karena jadi tuan rumah. Mereka main secara tim, solid di belakang dan tengah, tajam di depan. Ini tim Rusia yang jauh lebih kuat dibanding eranya Arshavin dan Pavlyuchenko."

PEMAIN Rusia, Denis Cheryshev, melepaskan tendangan yang menggetarkan jala gawang Arab Saudi pada laga pembuka Piala Dunia 2018 di Stadion Luzhniki, Moscow, 14 Juni. Rusia menang 5-0.
PEMAIN Rusia, Denis Cheryshev, melepaskan tendangan yang menggetarkan jala gawang Arab Saudi pada laga pembuka Piala Dunia 2018 di Stadion Luzhniki, Moscow, 14 Juni. Rusia menang 5-0. (AFP PHOTO/MLADEN ANTONOV)
Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved