Kedai Tok Awang
Mainkan Salah, Atau Mesir Kembali Kalah
Sebagaimana kecenderungan di Indonesia hari-hari belakangan, para pelanggan kedai Tok Awang juga banyak yang mendadak jadi fans tim nasional Mesir.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
"Kalau patokannya dari pertandingan lawan Arab Saudi, saya kira belum bisa disimpulkan kayak begitu, Pace. Arab Saudi sudah berkali-kali ikut Piala Dunia, tapi, permainan mereka enggak ada maju-majunya. Begitu-begitu saja, nyaris selalu jadi lumbung gol. Nah, melawan Mesir, dan terutama lawan Uruguay nantilah ujian Rusia yang sebenarnya. Namun untuk Salah, sekali lagi saya sepakat. Salah harus main. Jika tidak, Mesir akan kembali kalah."
Tok Awang yang sedari tadi menyimak percakapan angkat bicara. "Dengar-dengar aku, Guru, sendi bahu Si Salah yang dicopot Ramos itu belum duduk betul posisinya. Kalau tergeser lagi macam mana pula, bisa-bisa tak main dia sampai habis piala dunia."
"Lha, iya, kalaupun masih cedera sikit-sikit dimainkan sajalah. Mau macam mana lagi? Cobalah Atok pikir, kalau kalah lawan Rusia, kan, tersingkir juga mereka. Sama saja, kan? Pelatih Mesir harus berani ambil resiko. Tanpa Mohamed Salah, pemain-pemain Rusia bisa main tenang, karena enggak ada yang mereka takuti di lapangan. Dengan Salah, walaupun dia cuma bisa lari- lari dengan bahu sebelah, setidaknya, akan mengganggu konsentrasi Rusia."
"Tapi, Guru, ada yang bilang, Mohamed Salah itu bukan pemain kelas dunia. Dia pemain yang cocok untuk Liverpool," kata Sangkot nyeletuk.
"Siapa yang bilang?"
"Namanya Dmitri Cheryshev."
"Siapa itu?"
"Ayahnya Denis Cheryshev, pemain Rusia."
"Sini sa tebak, Abang Sangkot," sergah Pace Pae sebelum Zainuddin membuka mulut. "Itu Dmitri, bilang begitu, bukan cuma karena dia orang Rusia. Sa yakin, dia orang, kalau tidak suporter Real Madrid pastinya suporter MU."
Orang-orang di kedai Tok Awang tertawa terbahak-bahak. Tawa Sangkot kedengaran paling keras.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/salah1_20180619_140130.jpg)