Kedai Tok Awang

Gara-gara Mi Goreng di Kepala Neymar

Jadi rusak semua, bukan cuma kepalanya yang jadi berat, kakinya juga ikut-ikutan jadi berat.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/JOE KLAMER
NEYMAR 

SEJAK mulai menonton siaran pertandingan Piala Dunia tahun 1978 di TVRI, Tok Awang menetapkan hati untuk selalu memilih Brasil sebagai tim kesayangan. Seiring itu, dari piala dunia ke piala dunia, pemain-pemain Brasil juga menjadi idola baginya. Zico di tahun 1978 dan 1982, Careca tahun 1986, Bebeto dan Romario tahun 1990 dan 1994, serta Ronaldo Luiz Nazario da Lima di tahun 1998.

Saat Brasil juara untuk kali kelima di tahun 2002, Tok Awang mengidolakan empat pemain Brasil sekaligus: Ronaldo, Rivaldo, Roberto Carlos, dan Ronaldo Assis de Moreira alias Ronaldinho. Empat tahun berselang, idolanya bertambah satu, Ricardo Kaka. Tahun 2010, Kaka menjadi idola tunggal. Pula demikian tahun 2014, saat Piala Dunia dipentaskan di Brasil. Tok Awang bergeser dari Kaka ke Neymar da Silva Santos Junior.

Berlalu empat tahun, walau telah muncul nama-nama baru yang meroket atau bakal meroket menjadi bintang semacam Philippe Coutinho, Gabriel Jesus, Roberto Firminho, atau Fred yang baru memastikan perpindahan dari Shaktar Donesk ke Manchester United, nama Neymar masih melekat di hati Tok Awang. Dia yakin betul, di Rusia, di bawah komando Neymar, Brasil dapat melakukan penebusan kegagalan yang memalukan di rumah sendiri.

Keyakinan ini tetap kuat meski di laga perdana mereka kontra Swiss performa Brasil sama sekali tidak meyakinkan. Termasuk performa Neymar. Nyaris sepanjang laga, Neymar cuma menari- nari mempertontonkan kemahirannya menggocek bola.

Upaya yang sangat bagus untuk hiburan penonton, tetapi tidak efektif dan sia-sia untuk memburu poin. Sebab alih-alih mencetak gol atau membantu pemain lain bikin gol, Neymar justru harus berulang kali terkapar dihajar pemain-pemain Swiss yang garang main libas tanpa kompromi. Dalam catatan FIFA, sepanjang laga itu, Neymar dilanggar sepuluh kali. Pelanggaran-pelanggaran yang menghasilkan tendangan bebas, terbanyak yang dilakukan pada seorang pemain di satu pertandingan sejak Piala Dunia 1998.

"Ah, jangan kau cepat kali ambil kesimpulan, Jek. Itu baru pemanasan. Biasalah, baru pertandingan pertama, belum panas. Ibarat film, masih bagian perkenalan nama-nama pemainnya, belum masuk ke cerita," kata Tok Awang berkilah, saat Jek Buntal, pemuda setempat yang biasa mengutip parkir di depan gedung-gedung toko dan kantor tak jauh dari kedai, mencoret Brasil dari daftar calon juara yang dibuatnya.

Jek menampik kilah ini. "Tok, ibarat kereta, ya, Brasil itu semestinya seperti keretanya Marc Marquez. Langsung jujut enggak pakai nyendat-nyendat. Coba Atok lihat pemain-pemainnya. Semuanya, dari yang inti sampai cadangan, bintang di klub-klub besar Eropa. Mereka juga main mantap kali di babak kualifikasi, enggak pernah kalah satu kali pun. Jadi seharusnya, ya, seharusnya, mereka bisa langsung tune in lah saat lawan Swiss itu. Kenyataannya, kan, enggak. Masih untung mereka enggak kalah."

"Sekarang, coba Atok lihat lagi lebih teliti. Kalau perlu pakai kacamata biar lebih terang. Kenapa Brasil yang boleh dikata dream team ini justru enggak bisa berbuat banyak lawan Swiss? Menurut aku, masalahnya di Neymar. Dia sadar dirinya mega bintang dan karena itu jadi egois. Enggak mau dibaginya peran dengan pemain lain. Padahal, dia tahu betul, pemain-pemain Swiss ngincar dia."

NEYMAR saat berduel memperebutkan bola dengan pemain-pemain Swiss pada pertandingan pertama bagi kedua tim di babak penyisihan grup E Piala Dunia 2018, Senin, 18 Juni.
NEYMAR saat berduel memperebutkan bola dengan pemain-pemain Swiss pada pertandingan pertama bagi kedua tim di babak penyisihan grup E Piala Dunia 2018, Senin, 18 Juni. (AFP PHOTO/JOE KLAMER/PASCAL GUYOT)

Tok Awang bukanlah sebangsa orang yang gemar dan punya energi dan daya tahan berlebih untuk beradu tekak, beradu kencang urat leher. Tiap-tiap kali percakapan sudah mengarah ke debat yang sengit, maka dia akan memilih untuk bersikap tidak ngotot. 'Oh', 'iyanya (?)', 'begitunya (?)', 'kayak gitunya (?)', atau 'tak tahu awak, awak tahunya kayak gitu', adalah kata dan kalimat yang biasa dikemukakannya sebagai reaksi terhadap lawannya yang sedang menggebu-gebu.

Namun, kali ini agak berbeda. Tok Awang melayani Jek Buntal. "Itulah, kau ini kalau becakap, ya, pakai data. Jangan kau kayak para suporter garis keras bapak presiden dan bapak calon presiden kita itu. Biar sajalah mereka yang saling betekak pakai hati dan kepala yang panas."

"Sekarang, coba kau lihat lagi lebih teliti. Kalau perlu pakai kacamata biar lebih terang. Di antara semua pemain Brasil di pertandingan lawan Swiss, Neymar mendapat nilai paling tinggi. Artinya, dia bermain baik. Hanya saja permainan dia tidak diimbangi oleh pemain-pemain lain. Terutama striker-striker Brasil. Gabriel Jesus enggak kelihatan mainnya. Enggak kayak dia main di City. Masalahnya lagi, sudah tahu mentok, lama kali pulak pelatih Brasil masukkan Firminho."

Sebelum Tok Awang melanjutkan analisisnya, Pace Pae yang sejak tadi menahan omong, buru- buru menyela. "Sa mohon kejelasan ini. Soalnya sa mo telepon Kaka Jontra Polta. Menurut Atok Awang, Brasil lawan Kosta Rika nanti ada harapan kah?"

"Pastilah, Pace," sahut Tok Awang. "Pelatih Brasil pasti sudah belajar dari kesalahannya di pertandingan pertama. Selain pilihan pemain, pilihan strategi juga mesti diperbaiki. Kalau aku yang jadi pelatih, aku lebih pilih Firminho daripada Gabriel Jesus. Selain itu, Coutinho juga harus lebih aktif bergerak, karena dengan begitu, konsentrasi pemain Kosta Rika untuk mengawasi Neymar jadi terpecah. Kalau Neymar leluasa, kujamin, serangan Brasil akan jadi lebih tajam."

"Tapi, Tok, kabar terakhir, Neymar bisa jadi enggak main," kata Pace Pae.

"Oh, iyanya? Kenapa?"

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved