Kedai Tok Awang

Jangan Yakin Kali, Nanti Bisa Nangis

Kalaulah ada skenario yang mudah kenapa ambil yang payah. Peluang mesti dihitung dengan cermat.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/FRANCISCO LEONG
PEMAIN Portugal, Cristiano Ronaldo (kiri), bercanda dengan rekannya Pepe pada sesi latihan tim nasional Portugal jelang laga kontra Iran yang digelar 26 Juni 2016 dinihari WIB. 

"Maksud Ane, Portugal bisa lolos sampai perempat final?" tanya Zainuddin.

"Oh, iyalah, Pak Guru. Rusia atau Uruguay bisanya mereka lewati itu. Skor tipis-tipis saja, tapi Portugal yang menang."

"Kekmana kalok nanti mereka kalah dari Iran?"

"Kalah dari Iran? Enggak mungkinlah!"

PEMAIN Iran duduk lesu di lapangan usai dikalahkan Spanyol pada laga kedua mereka di Grup B Piala Dunia 2018, 21 Juni.
PEMAIN Iran duduk lesu di lapangan usai dikalahkan Spanyol pada laga kedua mereka di Grup B Piala Dunia 2018, 21 Juni. (AFP PHOTO/SAEED KHAN)

"Kok, enggak mungkin pulak? Spanyol hampir tekapar dijajar orang itu. Maroko dibikin tewas."

Ane Selwa tertawa ngakak. Lalu, dengan lagak para komentator sepakbola Indonesia yang memang sungguh-sungguh aduhai, memberikan penjelasan panjang lebar pada Zainuddin. Menurut Ane Selwa, menghadapi Spanyol maupun Maroko sesungguhnya Iran kalah segala- galanya. Kalah teknik, kalah strategi, kalah stamina. Hanya menang semangat. Itu pun, terutama saat menghadapi Spanyol, baru muncul setelah tertinggal gol.

Portugal, menurut Ane Selwa, sepantaran dengan Spanyol. Lini belakang, tengah, dan depan sama baiknya. Plus mereka memiliki pemain dari galaksi lain bernama Cristiano Ronaldo yang saat ini sedang ganas-ganasnya.

"Kuncinya di Fernando Santos. Aku kira dia sudah belajar dari pengalaman Spanyol yang hampir tebuntang gara-gara mandang sepele. Mereka kasih angin sama Iran. Main-main setelah menang satu gol."

"Portugal cuma perlu main aman. Main posisi, jaga organisasi permainan jangan sampai rusak. Iran enggak mungkin berani main terbuka sejak awal. Tapi, kalau itu mereka lakukan, lebih bagus lagi. Intinya Portugal bisa siap-siap. Jadi enggak tekejut lagi kayak Spanyol."

Ocik Nensi yang diam-diam rupanya terus menguping percakapan, menyeduh teh, lantas memberinya susu. Teh ini diberikannya pada Ane Selwa.

"Apa cerita ni, Cik? Awak, kan, tak ada pesan."

"Untuk kau."

"Ah, nanti Ocik masukkan pulak ke daftar utang."

"Banyak kali cakap kau. Gratis itu. Sering-seringlah kau senangkan hati Ocik kau ini."

"Sedap!" seru Ane Selwa, seraya menyeruput teh susu yang masih panas berkepul-kepul itu.(t agus khaidir)

Telah dimuat di Harian Tribun Medan
Senin, 25 Juni 2018
Halaman 1

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved