Kedai Tok Awang
Kayak Mercedes Pakai Minyak Campur
Skuat Jerman yang bagus akan jadi juara dunia, yang tidak bagus masuk final.Bagaimana skuat yang gagal masuk final?
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
"Terus terang awak agak khawatir kali ini. Memang sudah pastinya Korea itu pulang, tapi, ya, tetap aja enggak gampang jugak ngalahin mereka. Swedia dan Meksiko aja sempat kocar-kacir kok digas orang tu."
"Jadi cemana, Pak Udo, kayaknya gugur Jerman kali ini, ya," sebut Jek Buntal.
"Kalok kita nengok ilmu cocokloginya bisa masuk memang, Pak Udo," ujar Zainuddin menimpali.
"Hah, macam mana pulak itu, Pak Guru?"
"Iya, tahun 1934 Jerman out di babak awal. Tahun 1978, kejadiannya terulang. Dari 1934 ke 1978 itu ada selang 40 tahun, Pak Udo."
"Jadi?"
"Dari 1978 ke 2018 juga 40 tahun."
Pak Udo melibaskan tangan. "Ah, tak ada lah itu, Pak Guru. Cumak kebetulan ajanya itu."
"Iya, saya pun sebenarnya enggak serius-serius kalinya. Tapi, Pak Udo, bagaimanapun harus diakui juga kalau Jerman ini memang bermasalah."
"Apa masalahnya?"
"Nah, itulah masalahnya. Kayaknya pelatih Jerman itu, Si Loew, enggak tahu di mana letak masalah timnya. Mungkin ini juga yang membuat dia mendengarkan omongan pemain-pemain legenda Jerman."
Pascakekalahan Jerman dari Meksiko, sejumlah pemain Jerman bersuara keras. Terutama Lothar Matthaus dan Mario Basler. Mereka mengkritik pilihan pemain Joachim Loew untuk mengisi komposisi di lini tengah. Terutama menyangkut Mesut Oezil. Menurut mereka, Oezil sudah tidak memiliki semangat untuk menang dan patut didepak dari starting eleven.
Loew kemudian menuruti desakan itu. Melawan Jerman, dia menukar Oezil dengan Marco Reus, dan Reus, memang menjadikan permainan Jerman lebih tajam. Masalahnya, walau tajam, laju mesin Mercedes Jerman tetap saja tersendat-sendat. Jerman harus menunggu sampai menit 95 untuk memastikan kemenangan.
"Jerman sekarang punya Timo Werner. Pemain kencang dan jago sprint. Jarang ada pemain kayak gini di Jerman. Ibarat mesin, dia mesin turbo. Kalok Mercedes dengan mesin turbo bisa dibayangkan lah itu, kan, kencangnya. Tapi dua pertandingan, Si Timo ini bisanya cumak lari-lari enggak jelas," ucap Zainuddin.
"Mesin turbo pun kalau cuma pakek minyak campur percuma aja," sahut Jek Buntal. "Iya, kan, Pak Udo? Harus diganti lah. Harus pakai bahan bakar yang bagus. Jangan pulak pakai bensin subsidi."
Ocik Nensi yang baru kembali dari pasar langsung nyeletuk. "Kenapa bensin subsidi? Sudah pulak mau naik lagi? Ini semua gara-gara Jokowi."(t agus khaidir)
Telah dimuat di Harian Tribun Medan
Rabu, 27 Juni 2018
Halaman 1
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/jerman3_20180627_172932.jpg)