Advertorial

60 Tahun Perguruan Katolik Yayasan Seri Amal Mengabdi untuk Negeri

Selama 60 tahun atau 6 dasawarsa mengabdi untuk negeri. Inilah kali pertama, Perguruan Katolik Yayasan Seri Amal

Tribun Medan/HO
MERAYAKAN ULANG TAHUN KE-60, Yayasan Seri Amal Medan menggelar acara pembukaan di Kompleks St Ignasius Jalan Karya Wisata, Medan Johor, Selasa (11/9). 

"Pembentukan YSA ini sebagai perwujudan spiritualitas KSSY melalui dunia pendidikan. Jadi meskipun kami merayakan ulang tahun yang ke 60, sebenarnya pelayanan kami, sudah lebih dari 60 tahun," tutur Sr Gerarda Sinaga KSSY. 

Sesudah terbentuk, YSA kemudian mendirikan Sekolah Dasar Santo Yosef di Sidikalang, Kabupaten Dairi, pada 10 Juli 1965, Taman Kanak kanak Santa Maria pada 1976, SMA Cahaya 5 April 1979, SMA Cahaya 2 Sidikalang 1984 yang sejak 1993 berganti nama menjadi SMA Santo Petrus.

Melihat pertumbuhan penduduk dan banyaknya keluarga baru di JaIan Karya Wisata, Medan Johor, maka pada 1997 YSA mulai menggandeng anak-anak dengan mendirikan beberapa sekolah. Dimulai dengan pembukaan SD Santo Ignasius lalu dua tahun berikutnya TK Santo Ignasius.

Ulang Tahun Ke-60 Yayasan Seri Amal

"Pada tahun 2008, KSSY membuka SMP dengan nama yang sama namun kurikulumnya berbasis entrepreneurship, disusul SMA Santo Ignasius dua tahun kemudian," ungkap Suster Gerarda.

Sayap pelayanan KSSY tidak hanya menaungi pendidikan di Sumatera Utara. Melalui Kapitel Umum (Rapat Akbar Kongregasi), ber-dasarkan permintaan Uskup Palangkaraya, Pimpinan Kongregasi menyetujui pembukaan komunitas baru di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. 

"Awalnya berbentuk Tempat Penitipan Anak atau TPA. Berdasarkan permintaan orang tua, beberapa tahun kemudiaan didirikanlah PAUD Santo Yosef Palangkaraya pada Mei 2017," ungkapnya.

Permintaan pembukaan komunitas KSSY juga datang dari Paroki St. Paulus Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat, Sumut. Pada Januari 2018 sudah diadakan peletakan batu pertama dan Juli 2018 resmi menerima siswa baru di sekolah yang diberi nama TK Santo Yosef di Jalan Lintas Besitang, Bukit Kubu Langkat. 

Suster Gerarda Sinaga KSSY

Lepas Peluang Bankir, Pilih jadi Biarawati

Suster Gerarda Sinaga KSSY
Suster Gerarda Sinaga KSSY 

Umur tidak boleh membatasi seseorang untuk terus belajar dan mengupgrade Itulah yang dikatakan oleh Ketua Yayasan Seri Amal Medan, Suster Gerarda Sinaga KSSY.

Cita-citanya menjadi suster dimulai di tahun 1983. Setelah menamatkan sekolahnya di SMA Negeri 1 Pangururan, Kabupaten Samosir, perempuan kelahiran 1974 ini menjadi calon suster di tahun 1994.

Meskipun saat itu ia diterima bebas testing ke Jurusan Perbankan Universitas Sumatera Utara, ia lebih memilih menjadi biarawati Katolik daripada peluang menjadi bankir. la kemudian memulai pendidikan sarjananya di Jurusan Bahasa Inggris FKIP Universitas Nomensen Siantar, tahun 1999.

"Setalah lulus, saya menjadi guru di SMP Kartini Parsoburan selama 5 tahun dan kemudian menjadi guru dan kepala sekolah di SLB A Karya Murni," ungkapnya.

Perjalanannya menjadi guru SLB sejak 2008 hingga 2012 tidaklah mudah. Mengajar anak anak tunanetra mewajibkannya untuk belajar membaca huruf braile juga. Selain itu dia harus bisa membuat anak anak itu percaya padanya agar mau belajar.

Tahun 2010, Sr Gerarda meraih gelar guru prestasi tingkat nasional. Ia diundang ke Istana. Lalu kemudian ia menjadi kepala sekolah SLB tersebut.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved