Breaking News:

News Analysis

Ichwan Azhari: Medan Dibangun sebagai Kota Anti-Banjir dan Canggih, Sekarang?

Medan bukan kota baru kemarin pagi dibangun. Medan sudah didesain sebagai kota anti banjir sejak zaman kolonial.

Editor: Liston Damanik
Tribun Medan/Risky Cahyadi
Warga berjalan menerobos banjir yang merendam kawasan Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Minggu (16/9/2018). Hujan deras yang terjadi pada Sabtu (15/9/2018) sore hingga malam dan meluapnya sungai menyebabkan ribuan rumah warga terendam air. 

News Analysis
Dr Ichwan Azhari, Sejarawan Unimed

Ichwan Azhari Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial

Pemerintah Kota Medan tidak meletakkan banjir sebagai sesuatu yang harus diselesaikan secara baik. Tapi mengatasi banjir sekadar tambal sulam. Begitu banjir, barulah semua ribut.

Ketika memasuki musim hujan barulah melakukan perbaikan drainase. Bahkan, membuat drainase baru. Semua itu proyek.

Saat ini, jalan tidak jauh dari Unimed sedang dibuat drainase besar dalam rangka mengantisipasi banjir. Tapi drainase sudah selesai, namun tetap saja banjir.

Masalahnya di mana? Kalau dilihat sepuluh tahun belakangan, program program drainase sudah banyak, tapi genangan tetap ada.

Pemko tidak akan mampu memikirkan jauh ke depan masalah banjir jika tidak mempelajari aspek historis banjir di Medan.

Bila tidak, solusi atau penyelesaian masalah banjir hanya parsial, Kota Medan akan menjadi danau. Apalagi, secara bersamaan ada banjir rob, air laut naik dan menahan air dari darat. Benar-benar Kota Medan akan tenggelam.

Saya mencoba belajar dari sejarah, kota yang rawan banjir ini tidak melahirkan manajemen banjir yang serius

Sekurangnya ada lima buku tentang sejarah banjir di Jakarta, satu level disertasi (Dr Restu Gunawan, Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa). Ini memperlihatkan sejarah banjir sudah masuk ranah ilmu pengetahuan.

Selama ini, Pemko Medan mengatasi masalah banjir tanpa mau belajar dari masa lalu pengelolaan banjir di Medan. Saat Kota Medan didirikan, pindah dari Labuhan Deli ke kawasan sekitar Lapangan Merdeka akhir abad 19, salah satu alasannya adalah masalah banjir.

Labuhan Deli tidak bisa dikembangkan sebagai kota modern karena selalu dan terancam banjir. Untuk itu Medan didirikan sebagai kota anti-banjir dan dipilihlah lokasi yang berdekatan dengan dua alur sungai (Sei Deli dan Sei Babura) yang bisa cepat mengurai banjir. Para desainer awal kota Medan tidak mau mengulang Batavia yang evolusi kotanya selalu banjir sejak zaman J Pieter J Coon 1621.

Sebagai kota baru, bergaya 100 persen peradaban kota Eropa, maka kota Medan sejak didirikan telah melibatkan ahli-ahli pengelolaan banjir dari Belanda.

Sepuluh tahun sejak Medan diresmikan sebagai kota (1 April 1909), Pemko Medan zaman Belanda dengan melibatkan berbagai pakar dari Eropa, telah memiliki dokumen pengelolaan banjir yang menakjubkan.

Medan tidak akan seperti Batavia, Medan kota antibanjir 200 tahun ke depan (idealnya sampai tahun 2109). Jalur jalur riol berbagai ukuran dan di berbagai kedalaman seperti lorong lorong rahasia dibangun di bawah tanah Kota Medan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved