News Analysis
Ichwan Azhari: Medan Dibangun sebagai Kota Anti-Banjir dan Canggih, Sekarang?
Medan bukan kota baru kemarin pagi dibangun. Medan sudah didesain sebagai kota anti banjir sejak zaman kolonial.
Saya lihat riol-riol ini dibangun benar-benar dengan ilmu pengetahuan moderen lintas disiplin, menggunakan data curah hujan, debit sungai, topografi dan geologi tanah.
Tidak hanya dikeluarkan biaya membangunnya yang besar tapi saya lihat juga disiapkan dana jutaan gulden untuk perawatan dan pengawasan yang serius dalam rangka menjadikan Medan kota antibanjir, Paris Van Sumatra. Termasuk telaah aspek-aspek perubahan sosiologis dan antropologis warga sebuah kota moderen di daerah kolonial.
Medan bukan dikelola oleh, dan dihuni mereka yang datang dari dan berselera kampungan. Ini kota modern, dihuni oleh orang orang modern dari berbagai penjuru dunia. Banjir merupakan aib besar bagi kota ini, makanyalah mereka tak main-main dalam menciptakan Kota Medan sebagai kota modern antibanjir.
Sekarang? Sudah sejak beberapa tahun lalu saya mengusulkan Pemerintah Kota Medan dapat kiranya belajar dan melihat kembali jaringan jaringan anti banjir ketika Medan di desain sebagai kota moderen berkelas Eropa. Apa yang masih bisa dimanfaatkan apa yang bisa dipelajari? {Termasuklah riol Medan Urban Development Project (MUDP) 1980-an?}
Tapi saya yakin dokumen arsip penting kota ini 100 tahun yang lalu, Pemko Medan tak punya. Jangankan 100 tahun lalu, peta riol raksasa MUDP tahun 1980 an saja di Arsipda Medan tak bisa tunjukkan. Teringatlah pada 2013 yang lalu,ketika Wali Ka Rahudman Harahap,saat banjir melanda memanggil kepala terkait, dan menanyakan mana peta lama riol raksasa MUDP. Dwab, "nggak ada, belum pernah lihat, nanti dicari".
Saya pikir jangan-jangan salah satu mulut riol raksasa MUDP itu ada di Sei Deli depan kantor Walikota, dan tak setetes air keluar dari situ saat Medan banjir.
Pada zaman Belanda ada Dewan Kota Medan yang benar berfungsi. Apa yang dilakukannya banyak dimuat dalam media Belanda yang terbit di Medan sebagaimana ditunjukkan sejarahwan Dirk Buiskol.
Dirk pun pernah saya undang beberapa kali ceramah di Unimed tentang tatakelola Kota Medan di masa Belanda. Sewaktu saya mengunjungi dan menginap di rumahnya di Belanda, getaran rasa kecewa Dirk atas pembangunan Medan tanpa perspektif historis itu sangat terasa.
Walikota Dzulmi Eldin dan wakilnya Akhyar Nasution dan jajaran pejabat termasuk DPRD-nya, bagaimana mungkin Anda bisa memanfaatkan data sejarah Medan yang kaya, termasuk strategi mengatasi banjir ini?
Bukankah arsip sejarah Kota Medan pun tak dipedulikan, badan Arsipda pun amburadul isinya, kantornya pun hanya semacam gudang belakang stasion Pinang Baris sana?
Padahal Medan bukan kota baru kemarin pagi dibangun. Medan sudah didesain sebagai kota anti banjir sejak zaman kolonial, tapi pengelola kota ini tak punya arsip sejarah banjir kota. Akhirnya tiap kali Medan dilanda banjir keluh kesah tanpa refleksi pun terjadi. (tio)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/banjir_di_medan_20180917_094235.jpg)