Ngopi Sore
Setelah Kasus Ratna Sarumpaet, Berbohong Dimaklumi Kena Tipu Dipuji
Tindakan berbohong dan fakta kebohongan Ratna Sarumpaet berupaya disamarkan dengan memanfaatkan emosi orang-orang yang disasar
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Namun ternyata ada pihak-pihak yang mencoba membangun wacana berbeda. Wacana yang dimaksudkan untuk memberi empati pada Ratna Sarumpaet, sekaligus menyelamatkan Prabowo Subiyanto dari kejatuhan pamor yang lebih dalam dan berbahaya bagi posisinya pada kontestasi Pemilu Presiden 2019.
Tindakan berbohong dan fakta kebohongan Ratna Sarumpaet pun berupaya disamarkan dengan --sekali lagi-- memanfaatkan emosi orang-orang yang disasar. Bohong lantas mengaku berbohong, disimpulkan sebagai tindakan hebat. Sebagai bentuk jiwa besar. Tidak banyak orang yang berani mengaku salah, meminta maaf, dan memancarluaskannya secara terbuka lewat stasiun televisi nasional. Nilai makna 'bohong' dipelintir sedemikian rupa.
Pada saat bersamaan, Prabowo --dan koalisinya-- ditempatkan sebagai korban kebohongan dan tipu-tipu Ratna. Selain kontradiktif dari upaya pertama, upaya ini juga lucu sekali. Terutama atas klaim bahwa mereka bisa dibohongi Ratna Sarumpaet, bisa tertipu, karena merupakan orang-orang yang baik dan berhati tulus. Orang baik dan tulus tidak gampang curiga, terlebih-lebih pada kawan sendiri.
Teori yang aduhai ini memunculkan teori baru pula. Teori yang sungguh tidak kalah lucunya. Ratna Sarumpaet adalah antek-antek Jokowi, semacam agen perusuh yang sengaja disusupkan untuk merusak dari dalam.
Bagaimana sebaiknya menyikapi kengawuran akibat keterjungkirbalikan logika seperti ini? Tidak perlu repot apalagi sampai harus berpusing-pusing. Tonton saja, karena pertunjukan ini asyik dan menghibur. Stres yang bergelayut di urat-urat syaraf kepala Anda bisa hilang.
Hanya saja memang ada syarat. Setidak-tidaknya Anda tak bodoh-bodoh amat.(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ratna2_20181005_175900.jpg)