Serunya Membuat Mochi di Bunkasai USU Bersama Pembuat Kue dari Jepang

Pembuatan Mochitsuki secara tradisional butuh kesabaran ekstra karena menghabiskan waktu serta tenaga yang cukup banyak.

Serunya Membuat Mochi di Bunkasai USU Bersama Pembuat Kue dari Jepang
Tribun Medan/Gita Nadia Tarigan
Keseruan para mahasiswa belajar membuat mochi secara tradisional di Bunkasai USU, Senin (29/4/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com-Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara sejak akhir pekan lalu dipenuhi oleh pernak-pernik unik khas Jepang serta ribuan orang yang datang silih berganti.

Bunkasai USU merupakan kegiatan yang paling ditunggu oleh sebagian besar anak muda Medan, hal tersebut dikarenakan setiap tahunnya Bunkasai USU menyajikan berbagai kegiatan unik yang berhubungan dengan negeri Sakura yaitu Jepang.

Srihartati, ketua panitia Bunkasai USU 2019 menjelaskan, tema yang diusung pada tahun ini adalah Koi To Kibo yang memiliki arti cinta dan harapan.

"Konsepnya, kami banyak memakai lampion. Lampion itu sebagai lentera kehidupan di masyarakat Jepang dan Indonesia. Tujuannya kan agar Indonesia dan Jepang bisa bekerjasama lebih baik lagi," ungkap Srihartati.

Baca: Perlombaan Costum Player hingga Cerdas Cermat Jepang Meriahkan Bunkasai USU 2019, Tonton Videonya

Baca: Mau Sukses Bekerja dan Berkarir di Jepang, Simak Tips dan Trik yang Harus Kamu Lakukan

Baca: 2 Buah Mangga Premium Terjual Rp 63 Juta dalam Lelang di Jepang, Apa Keistimewaanya?

Selain mengadakan perlombaan, stan makanan, serta kegiatan Jepang lainnya, Bunkasai tahun ini menghadirkan kegiatan Mochitsuki yang langsung diajarkan oleh orang Jepang.

Mochitsuki adalah cara tradisional membuat kue mochi dengan menggunakan palu kayu dalam bahasa Jepang disebut USU, untuk menumbuk beras yang dikukus dalam wadah batu atau kayu.

"Mochitsuki ini merupakan budaya asli Jepang, kegiatan ini biasanya dilakukan apabila ingin merayakan suatu hal, misalnya kelahiran seorang anak, perayaan tahun baru, pernikahan dan lainnya," tutur Toru Yonemura

Toru mengatakan, pembuatan Mochitsuki secara tradisional butuh kesabaran ekstra karena menghabiskan waktu serta tenaga yang cukup banyak.

"Pertama kita siapkan Inti berupa kacang merah dan hijau, lalu beras ketan sehari sebelum Mochitsuki. Lalu kita rendam selama enam jam, setelah itu beras dijeringkan dan disimpan dalam kulkas. Esok harinya mulai di kukus berasnya selama satu jam, setiap beberapa menit disiram air panas, dan setelahnya mulai ditumbuk sampai sepuluh menit," katanya.

Mochi hasil buatan mahasiswa yang mengikuti Bunkasai USU, Senin (29/4/2019).
Mochi hasil buatan mahasiswa yang mengikuti Bunkasai USU, Senin (29/4/2019). (Tribun Medan/Gita Nadia Tarigan)

Ia menambahkan untuk isian mochi dapat diisi sesuai selera, bisa kacang merah, kacang hijau, maupun coklat.

Beberapa mahasiswa Sastra Jepang yang ikut terlibat, terlihat antusias mengikuti arahan Toru Yonemura. Hasil mochi yang mereka buat dibagikan secara gratis kepada para penonton.

"Khusus hari ini kita belajar langsung dari orang Jepang, dan kita buat ratusan mochi gratis," kata seorang mahasiswa

Beberapa penonton yang datang banyak yang memuji mochi yang dibuat, salah satu diantaranya mengatakan mochi yang ia makan saat ini sangat berbeda dengan mochi yang biasa ia beli.

Toru Yonemura mengatakan, hingga saat ini kegiatan Mochitsuki masih dilaksanakan di Jepang, namun sebagian besar sudah tidak lagi menggunakan alat tradisional bernama usu, melainkan mesin yang otomatis.

"Kalau sekarang, orang Jepang jarang pakai usu, sudah banyak pakai mesin, tinggal cetak. Tapi masih ada juga yang tetap mempertahankan menggunakan usu," katanya. (cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved