BMKG Akui Gempa dan Tsunami 20 Meter Bukan Lagi Prediksi tapi Potensi, Profesor UB: Kami Tak Bantah

Isu potensi bencana gempa dan tsunami dahsyat di Selatan Jawa jadi pembahasan sepekan terakhir. Bencana alam itu ternyata bukan lagi sebatas prediksi

Tayang:
Editor: Juang Naibaho
Instagram/@daryonobmkg
Ilustrasi Tsunami - Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono memberikan kabar terbaru atau update terkait beredarnya kabar gempa berkekuatan magnitudo 8,8 disertai tsunami setinggi 20 meter di Pantai Selatan Jawa, Sabtu (20/7/2019). (Instagram/@daryonobmkg) 

BMKG Akui Gempa dan Tsunami 20 Meter Bukan Lagi Prediksi tapi Potensi, Profesor UB: Kami Tak Bantah

TRIBUN MEDAN.com - Isu potensi bencana gempa dan tsunami dahsyat setinggi 20 meter di Selatan Jawa menjadi pembahasan sepekan terakhir.

Bencana alam di Selatan Jawa itu ternyata bukan lagi sebatas prediksi, melainkan sudah pasti terjadi.

Kendati demikian, belum diketahui kapan gempa dan tsunami tersebut akan terjadi. Masyarakat pun hanya bisa menunggu waktu gempa dan tsunami di Selatan Jawa itu.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pun sudah memberikan rilis pada tanggal 21 Juli 2019 mengenai isu tersebut.

Dalam rilisnya, BKMG menyebut bahwa hal itu merupakan potensi dan bukan lagi menjadi prediksi.

Untuk itu, BMKG mengimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing isu yang beredar.

Baca: MotoGP - Jadwal & Link Live Streaming MotoGP Ceko 2019 Seri Ke-10, Klasemen MotoGP 2019 Terkini

Baca: Kasus Novel Baswedan Sampai ke Kongres AS, Dilaporkan sebagai Pelanggaran HAM di Indonesia

Baca: Akhirnya Sekjen Nasdem Ungkap Kondisi Hubungan Megawati dan Surya Paloh Saat Ini

Menanggapi hal tersebut, Geoscientist dari Universitas Brawijaya (UB) Malang, Prof Adi Susilo PhD memberikan tanggapan mengenai isu gempa dan tsunami tersebut.

Menurutnya, bencana itu bisa saja terjadi, karena di selatan Pulau Jawa merupakan jalur pertemuan antara lempeng benua dengan lempeng samudera.

Prof Adi menjelaskan, jika selama ini lempeng benua yang ia sebut lempeng Eurasia tersebut mendorong terus menerus lempeng samudera atau lempeng Indo-Australia.

Pergerakan dari lempengan tersebut diperkirakan mencapai 6-7 cm per tahun.

"Kami tidak membantah bahwa potensi gempa dan tsunami itu akan terjadi. Sebenarnya, tujuan itu ialah bentuk kewaspadaan saja kepada masyarakat," ucapnya, Kamis (25/7/2019).

Prof Adi menjelaskan, jika material yang ada di kerak bumi itu bentuknya elastis.

Apabila lempeng itu bergeser, maka akan terjadi gempa tektonik seperti yang terjadi di Pulau Bali beberapa hari yang lalu.

"Material ini bukan yang gampang patah, itu sifatnya elastis. Nanti pelan-pelan lempeng eurasia itu akan menekan terus lempeng indo-australia karena berat jenisnya lebih besar lempeng eurasia," terangnya.

Baca: Ibu Muda Dicekik Suami dan Dicakar Pelakor saat Pergoki Aksi Perselingkuhan di Dalam Mobil

Baca: Inilah 6 Fakta Lengkap Polisi Ditabrak dan Terseret hingga 100 Meter, Pelaku Ternyata Mahasiswa S2

Sumber: Warta kota
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved