Lebih Percaya Diri Menjalani Ibadah Agama Malim di Kota Medan
Parmalim di Indonesia saat ini jumlahnya mencapai 1.300 Kepala Keluarga (KK). Jika diuraikan, penganutnya mencapai 9.000 orang.
Penulis: Alija Magribi |
Ugama Malim dikatakan Rinsan dan Lambok tidak memiliki kitab suci seperti kitab yang diimani agama-agama lainnya. Hal itulah yang dinilai mereka menjadi penghambat Ugamo Malim diakui oleh Negara.
"Makanya hal hal seperti itu membuat kita tidak diakui sebagai agama. Tapi gak apa apa sih meski hanya diakui sebagai aliran kepercayaan saja. Sebab soal Iman kita hanya bertanggungjawab dan berurusan dengan Mulajadi Nabolon, yaitu Tuhan bukan kepada pemerintah," ujar Lambok.
Saling Mencintai dan Mengasihi
Seperti agama-agama pada umumnya, Ugamo Malim juga mengajarkan untuk mencintai dan mengasihi antar manusia. Parmalim sebagai penganut ugamo malim meyakini Raja Sisingamangaraja merupakan seorang pahlawan dari Parmalim yang turut andil membesargan Ugama Malim.
Dikatakan Lambok, Wafatnya Raja Sisingamangaraja tahun 1907 merupakan awal baru bagi Parmalim melanjutkan perjuangannya. Sebab Raja Sisingamangaraja merupakan seseorang yang dianggap sosok yang menjalankan amanah oleh Nabi dari Ugamo Malim untuk berjuang.di Kawasan Bakkara.
"Kekurangan Bangsa Batak ini adalah tidak benar-benar menjaga warisan budayanya. Padahal kita (Batak) itu punya aksara dan tahunnya sendiri. Tapi tak paham soal sejarah, makanya soal awal mula Ugama Malim diturunkan di Bumi batak masih perlu penelitian," ujar Lambok.
Beberapa silang pendapat soal kepemimpinan Ugama Malim diantara Parmalim sempat mengemuka pada tahun 2016 atau tepat setelah wafatnya 2016. Namun begitu persilangan pendapat ini bagi Parmalim tidak perlu menjadi sesuatu yang besar, sebab iman pada Mulajadi Nabolon tetap sepenuh hati dijalankan.
Dikatakan Lambok, dalam beribadah di Bale Parsantian, ajaran Malim dilakukan dengan perantara bahasa Batak Toba. Namun begitu, sesekali ceramah dilakukan dengan sedikit bahasa Indonesia.
"Ini juga Pekerjaan Rumah (PR) bagi kita, sebab anak anak di Kota sudah mulai meninggalkan bahasa bataknya. Jangankan bagi penganut Parmalim sendiri, bagi orang bersuku batak dengan agama di luar malim pun banyak yang sudah tidak bisa berbahasa batak," katanya.
Parmalim berharap masyarakat luar dapat menerima keyakinan mereka dalam bertuhan. Bagi mereka tak ada pembeda antara Malim dengan agama agama lainnya. Selain itu mereka berharap agar anak-anak mereka dapat diterima di masyarakat oleh anak-anak dari agama lainnya yang mungkin belum mengenal Parmalim,
(cr15/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kegiatan-ibadah-bangsa-parmalim-di-bale-parsantian-medan-denai.jpg)