Sidang Perdana Asusila dan Pembunuhan Calon Pendeta Melindawati Berlangsung Tertutup, Ini Kata Jaksa
Masih ingat kasus asusila yang berujung pembunuhan sadis calon pendeta atau vikaris asal Nias, Melinda Zidemi (24)?
Setelah memastikan Melinda tak bernafas lagi, kedua pelaku membopong jasad korban dan membuangnya ke semak-semak. Keduanya juga menyembunyikan barang-barang pribadi dan belanjaan korban.
Beberapa hari kemudian, jasad Melinda ditemukan di areal perkebunan PT Sungai Mas Persada (SMP) Sungai Baung, Dusun Sungai Baung Desa Bukit Batu, Kecamatan Air Sugihan Kabupaten OKI, Selasa (26/3/2019).
Usai proses rekonstruksi, kedua tersangka menyatakan menyesal telah membunuh calon pendeta Melinda. "Taubat, aku benar-benar tobat. Idak lagi," ujar Hendri.
Baca: Paman Prada DP Mendadak Hilang dan Tak Bisa Bersaksi, Ini Fakta Persidangan Seputar Dodi Karnadi
Baca: Detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945, Ternyata Soekarno Sempat Diminta Ulangi Upacara Kemerdekaan
Ikut Mencari Korban
Sebelum ditangkap, ternyata tersangka Nang dan Hendri sempat ikut mencari Melinda. Pasalnya, ketika itu warga desa heboh lantaran tidak pulang ke messnya hingga malam hari.
"Jadi kami setelah melakukan pembunuhan, langsung balik ke mess. Malamnya kami dengar kalau ada yang hilang," ujar pelaku Nang, beberapa waktu lalu.
Saat warga heboh mencari korban, kedua pelaku ikut bergabung dengan warga lainnya guna mencari keberadaan sang vikaris. "Malam itu waktu dikabarkan ada warga yang hilang, kami ikut berkumpul. Kami berjalan ke kebun bersama warga," jelasnya.
Ketika itu jasad Melinda belum ditemukan. Keduanya pun bisa bernafas lega dan kembali ke mess karyawan untuk tidur.
Esok paginya barulah Hendri dan Nang mendengar jika korban sudah ditemukan tidak bernyawa. "Paginya kami baru mendapat kabar kalau korban sudah ditemukan. Hari ditemukan kami tidak bekerja karena warga sedang berduka. Besoknya kami baru bekerja lagi sebelum ditangkap," ujarnya.
Baca: BREAKING NEWS: TNI-Polri Dampingi Satpol PP Ambil Alih Gedung Warenhuis Medan
Motif Asrama Terpendam
Setelah ditangkap, Nang mengakui perbuatannya menghilangkan nyawa Melinda. Motif asmara terpendam menjadi alasan bagi pekerja sawit tersebut membunuh Melinda.
Nang mulai tertarik dengan Melinda sejak kedatangan calon pendeta itu ke Divisi 4, PT PSM. Melinda bekerja sebagai calon pendeta di sana.
Namun, Nang cuma memendam perasaan cintanya tersebut. "Aku suka sama dia (korban), tapi nggak berani bilang. Waktu aku lihat dia keluar, aku ikutin sama Hendri. Jadi yang ngajak Hendri dari mes ya aku," kata Nang.
Niat memperkosa korban muncul ketika Nang mengajak Hendri mengadang korban. Keduanya sempat menunggu korban di mess, namun karena korban tak kunjung pulang akhirnya Nang mengajak Hendri ke kebun untuk mengadang korban.
"Aku lihat si korban belum pulang ke mess-nya. Aku ajak Hendri ke kebun sawit untuk mengadang. Tujuan awalnya itu mau bersenang-senang, memperkosa," jelas Nang.
Dengan menggunakan kain sebagai penutup wajah, kedua buruh itu mengadang pelaku dengan kayu balok agar korban berhenti. Melihat gelagat korban yang mau berputar arah, Hendri dan Nang dengan sigap menangkap Melinda dan NA (9).
Melinda sempat memberontak dan berusaha teriak, sehingga membuat pelaku gelagapan. Apalagi, penutup wajah Hendri sempat terbuka oleh korban. Akhirnya kedua pelaku mencekik korban hingga tewas.
"Pas dibuka (busana) itu korban juga memberontak dan narik penutup wajah Hen," jelas Nang.(*)
Artikel ini telah tayang di Tribunsumsel.com dengan judul Sidang Pembunuhan Calon Pendeta Melindawati Zidomi Digelar Tertutup, Ini Alasan PN Kayuagung
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/alasan-pembunuhan-pendeta-melinda-zidemi-diduga-cinta-ditolak-pemeriksaan-2-pria-nang-dan-han.jpg)