Menjual Danau Toba Lewat 1000 Tenda

Tak hanya unik dan kreatif, 1000 Tenda pun mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar Danau Toba

Menjual Danau Toba Lewat 1000 Tenda
Tribun Medan / Truly
Pengunjung 1000 Tenda Kaldera Toba Festival di Desa Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba Samosir, 28-30 Juni 2019. 

TRIBUN-MEDAN.com - Beragam cara dilakukan pemerintah pusat untuk menjual Danau Toba sebagai daerah tujuan wisata berkelas dunia dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Satu diantaranya dengan mencanangkan program Percepatan Pembangunan Destinasi Pariwisata Super Prioritas kepada Danau Toba, selain Candi Borobudur, Manado, Mandalika, dan Labuan bajo. Tapi sejak empat tahun lalu, komunitas lokal dan warga lokal di sekitar Danau Toba telah menjual Danau Toba dengan cara yang unik dan kreatif, 1000 Tenda. Tak hanya unik dan kreatif, 1000 Tenda pun mampu menggerakkan perekonomian warga di sekitar Danau Toba. Bagaimana ceritanya?

***

EVENT 1000 Tenda Kaldera Toba Festival di Desa Meat, kecamatan Tampahan, kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara sudah berlalu cukup lama, sekitar 1,5 bulan. Acara yang digelar tanggal  28-30 Juni 2019 tersebut begitu membekas bagi Jenny (37). Warga Simalingkar Medan ini, mengaku 1000 Tenda Kaldera Toba Festival lah yang membuatnya pernah tidur selama tiga hari dua malam di dalam sebuah tenda bersama suami dan kedua anaknya. Dirinya mengaku, sudah belasan kali mengunjungi Danau Toba baik dalam rangka pekerjaan atau berlibur bersama keluarga, tetapi baru di liburan akhir Juni lalulah dirinya untuk pertama sekali tidur di tenda.

“Waktu itu diajak teman sekantor. Katanya ada acara kemping di Desa Meat. Teman kantor bilang acaranya unik karena tidur di tenda dan ada acara pendukung seperti trip wisata dan pertunjukan budaya. Saya juga waktu itu belum tahu di mana itu Desa Meat dan kecamatan Tampahan. Kalau kabupaten Toba Samosir sering dengarlah,” kata Jenny kepada tribun-medan.com, awal Agustus lalu.

Penasaran dengan konsep acaraya dan ingin merasakan tidur di tenda, Jenny pun mengajak suami dan kedua anaknya ikut 1000 Tenda Kaldera Toba Festival. Kebetulan tanggal pelaksanaanya bersamaan dengan libur sekolah kedua anaknya. Jenny mendaftar secara online. Untuk empat orang, dirinya membayar biaya registrasi Rp 80 ribu atau Rp 20 ribu per orang. Dari Medan, mereka mencarter mobil bersama teman sekantornya yang juga ikut ke Desa Meat. “Kami hanya bawa badan sajalah. Untuk tenda, warga setempat sudah ada yang menyewakan, jadi saya sewa dari warga saja,” ujar Jenny.

Jenny mengaku dirinya tak menyesal mengikuti 1000 Tenda Kaldera Toba Festival. Meskipun berkonsep kemping, tetapi banyak kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari pelaksanaan 1000 Tenda Kaldera Toba Festival. Sebagai staf komunikasi sebuah organisasi non pemerintah di Medan, dirinya berkesempatan mengikuti pelatihan menulis yang dilaksanakan di hari kedua kegiatan. “Saya mendapat ilmu menulis dari penulis-penulis majalah Tempo yang terkemuka itu. Sebagai staf komunikasi yang pekerjaan utamanya menulis, pelatihan ini bermanfaat bagi saya,” kata Jenny.

Pengalaman yang sama juga disampaikan, Heri (21), warga kota Binjai, Sumatera Utara. Mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Binjai ini mengaku diajak teman kampusnya untuk ikut 1000 Tenda Kaldera Toba Festival. Heri mengaku, dirinya sudah beberapa kali berkemah bersama teman-temannya ke Bumi Perkemahan Sibolangit ataupun Gunung Sibayak. “Tapi penasaran juga, bagaimana rasanya kemping di tepi Danau Toba,” kata Heri.

Heri mengaku, dari seluruh rangkaian acara di 1000 Tenda Kaldera Toba Festival, dirinya tertarik untuk mengikuti berbagai diskusi yang menghadirkan banyak pembicara dari Sumatera Utara dan luar Sumatera Utara. “Topik diskusinya keren-keren seperti membahas masa depan industri kreatif, bagaimana masa depan di Danau Toba, dan milenial membangun desa. Yang saya paling berkesan adalah diskusi tentang anak muda yang memimpin Indonesia di tahun 2045. Ada Ryan Ernest yang jadi pembicara. Kebetulan saya mengidolakan beliau,” ujar Heri.

Terkesan dengan event 1000 Tenda Kaldera Toba Festival di Desa Meat, Jenny dan Heri pun meneguhkan hati untuk mengikuti event yang sama di Pulau Silalahi, kecamatan Silalahi, kabupaten Dairi, Sumatera Utara tanggal 6-8 September 2019. Tao Silalahi Arts Festival (TSAF) namanya. “Saya sudah mendaftar online dan transfer biaya pendaftarannya. Saya ambil paket Rp 30 ribu, sudah termasuk biaya daftar dan PIN,” kata Heri.

Meskipun tidak membawa embel-embel 1000 tenda di nama eventnya, Jenny dan Heri memastikan event tersebut punya sub acara 1000 tenda setelah melihat informasi event TASF di media sosial penyelenggara. “Saya sudah komunikasi dengan panitianya. Pengunjung tetap menggelar tenda di tepi danau,” lanjut Heri.

Pengunjung memasuki lokasi 1000 Tenda Kaldera Toba Festival di Desa Meat, kecamatan Tampahan, kabupaten Toba Samosir,28-30 Juni 2019.
Pengunjung memasuki lokasi 1000 Tenda Kaldera Toba Festival di Desa Meat, kecamatan Tampahan, kabupaten Toba Samosir,28-30 Juni 2019. (Tribun Medan / Truly)
Halaman
1234
Penulis: Truli Okto Purba
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved