Kesulitan Peroleh Air Bersih, Anak-anak SD ini Terpaksa Mandi di Pemandian Kerbau

Tias mengaku mandi di tala-tala karena kekurangan air di rumah mereka. Dia dan anak-anak lainnya hampir setiap hari mandi di sana.

Penulis: Arjuna Bakkara |
TRIBUN MEDAN/ARJUNA BAKKARA
Tiga orang anak hendak mandi di kolam latar mereka berfoto di Desa Sijambur, Dussun Pallimutan, Kecamatan Ronggur Nihuta, Samosir, Senin (26/8/2019) 

TRIBUN-MEDAN. COM, SAMOSIR - Persoalan air bersih hingga kini belum tuntas di Sejumlah Desa di Samosir. Kunjungan Tribun di Desa Sijambur, Dusun Pallimutan, Kecamatan Ronggur Ni Huta, Kabupaten Samosir, warga masih harus berharap turunnya air hujan untuk kebutuhan air, Senin (26/8/2019).

Tias Simbolon siswa kelas lima SD dan rekannya, Marsel Hutagaol kelas 6 SD sedang menuju 'tala-tala' menyerupai waduk.

Tias dan Marsel mau tak mau harus mandi di tala-tala dengan kondisi airnya yang keruh.

Tias mengaku mandi di tala-tala karena kekurangan air di rumah mereka. Dia dan anak-anak lainnya hampir setiap hari mandi di sana.

"Kalau air hujan yang ditampung di rumah hanya dipakai untuk minum,"tuturnya.

Air di dalam kolam yang biasa disebut 'Tala-tala' tersebut berwarna putih kapur. Selain untuk mandi warga, kerbau juga dimandikan disana, seperti terlihat yang dilakukan Tias.

Baca: Berawal dari Hobby, Sari Siagian Kebanjiran Order Interior Bunga Shabby

Baca: Kejati Sumut Sudah Periksa Kepala Madrasah soal Dugaan Pungli pada Kompetisi Sains

Sambil mandikan ternaknya, dia mandi di air yang sama.

Warga setempat Sijabat (32) mengatakan hingga saat ini yang paling sulit mereka dapatkan adalah air minum. Air untuk konsumsi minum hanya bisa diperoleh dengan menampung air hujan.

"Sampai sekarang, kami hanya bisa menampung air hujan kalau untuk kebutuhan air minum," jelasnya.

Hal tersulit yang dialami warga, kata Sijabat ketika kemarau berkepanjangan. Mereka harus pergi mendapatkan air dengan jarak tempuh 2 Km yang lumayan jauh menurutnya.

Sijabat harus menjemput air dari Desa Sidihoni menggunakan jerigen. Air sebanyak dua jerigen atau 40 liter itu harus diirit pemakaiannya agar cukup untuk satu minggu.

Selain itu, meski curah hujan lumayan bagus seperti saat ini nereka tetap harus pergi jauh dari rumah menuju Desa Tetangga menjemput air.

Air tersebut dibayarnya Rp 2.000 untuk satu jerigen dan pembeliannya pun tetap terbatas agar cukup dibagi dengan warga lainnya.

Baca: Ini Alasan Hakim PN Jaksel Tetapkan Mulan CS Menangi Gugatan Atas Gerindra, Soal Caleg Terpilih

Baca: Jadi Tuan Rumah Liga 3, Stadion Baharoeddin Siregar Bau Pesing

Di desanya sendiri, embung yang dibangun belum rampung. Karenaya, sampai saat ini mereka harus pergi jauh-jauh mendaparkan air minum.

Baik untuk mencuci pakaian, bila kemarau nanti tiba dia istrinya harus pergi ke Danau Sidihoni untuk mencuci pakaian yang berjarak 2 Km dari rumahnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved