In memoriam Bacharuddin Jusuf Habibie

Belajar Mencintai dari Habibie

Takdir kemudian menyeretnya ke politik. Namun justru dari ruang yang tak diinginkannya inilah nama Habibie dicatat dengan tinta yang lebih berkilau.

Belajar Mencintai dari Habibie
kompas.com
PRESIDEN RI ketiga, Bacharuddin Jusuf Habibie 

Ada satu masa di negeri ini tatkala segala jenis kepintaran hanya menjadikan satu orang sebagai pembanding. Pintar seperti Habibie. Bahkan tukang protes kelas kakap di era Orde Baru, Iwan Fals, sepakat dengan hal itu. Lewat Oemar Bakri, lagunya yang fenomenal, Iwan Fals menyebut "guru yang benar" akan "bikin otak orang seperti otak Habibie".

Begitulah selama bertahun-tahun di era kepemimpinan Presiden Soeharto, kepintaran dan segala sesuatu yang berkaitpaut dengan otak selalu dihubung-hubungkan dengan Bacharuddin Jusuf Habibie. Dia adalah teknokrat terdepan. Jenius lulusan Jerman. Pemegang banyak paten pada teknologi penerbangan; khususnya pesawat.

"Sepanjang masa muda saya, satu-satunya ketertarikan bagi saya adalah ilmu pengetahuan. Saya sama sekali tidak tertarik pada politik. Bagi saya politik terlalu rumit dan memusingkan," kata Habibie dalam berbagai kesempatan.

Sampai di sini, sesungguhnya, Habibie sudah mencatatkan namanya dengan tinta emas. Soeharto memanggilnya pulang pada tahun 1973 dan memberinya tanggung jawab mengembangkan teknologi kedirgantaraan Indonesia. Dua puluh tahun berselang, Habibie menjawabnya dengan N250 Gatot Kaca. Tidak hanya itu. Para pakar aviasi dunia juga memandangnya penuh hormat. Temuan Habibie: Crack Progression Theory; rumus hitung keretakan, dinilai sangat penting lantaran dapat menekan potensi kecelakaan akibat kerusakan pesawat.

Takdir kemudian menyeretnya ke politik. Namun justru dari ruang-ruang yang tak diinginkannya inilah nama Habibie dicatat dengan tinta yang lebih berkilau dari sekadar emas. Bukan lantaran siasat-siasat yang lihai. Melainkan jejak yang barangkali akan sulit hilang: cinta.

Anda yang telah menonton 'Habibie & Ainun', film biopik Habibie dan Hasri Ainun, tentu paham betapa besar cinta di antara mereka. Cinta yang menakjubkan. Demikian menakjubkannya hingga membuat para pengampu cinta menggariskan satu defenisi baru perihal kesejatian: seperti cinta Habibie pada Ainun.

Habibie memang pecinta sejati. Tidak hanya terhadap Ainun cinta ini dia tunjukkan. Habibie juga menunjukkan cinta pada politik yang tidak disukainya. Bukan berbalik mencintai politik. Melainkan menempatkan politik itu sebagai bagian dari kesejatian cintanya.

Sikap yang kemudian melahirkan salah satu momentum paling dramatis dalam perjalanan sejarah bangsa. Habibie tetap duduk di sana. Di depan para anggota parlemen pada sidang paripurna MPR 19 Oktober 1999. Wajahnya tetap bersenyum. Wajah seorang yang tidak kehilangan apa-apa.

Padahal saat itu dia sedang habis-habisan dilucuti. Pertanggungjawabannya sebagai Presiden Republik Indonesia ditolak. Politisi-politisi Senayan yang sedang dibekap euforia reformasi, mencecarnya lewat dua perkara yang mereka sebut sebagai dosa besar Habibie: lepasnya Timor Timur dan tidak dilakukannya "pengadilan" terhadap Soeharto.

Tentu ada yang membela Habibie. Yakni mereka yang memandang sebagai seorang yang berupaya memperbaiki keadaan. Saat Habibie naik ke kokpit menggantikan Soeharto, Indonesia dalam kondisi kocar-kacir.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved