TRIBUN WIKI
5 Fakta Soal Songket Batubara, Warisan Budaya Sumut yang Harus Terus Dilestarikan
Songket Melayu Batubara adalah salah satu warisan budaya Sumatera Utara yang bahkan sampai dengan saat ini
Penulis: Alija Magribi |
Di kabupaten Batubara sendiri, selain Kampung Panjang, daerah lainnya juga turut melestarikan Songket Melayu, seperti di Desa Masjid Lama, Tanjungtiram, Limapuluh maupun daerah lainnya.
Rudi mengatakan saat ini dirinya dibantu 20 karyawan, yang mana setiap bulannya lebih kurang lahir 40-50 helai Songket Melayu Batubara dengan berbagai corak dan keistimewaanya. Setiap helai songket memiliki waktu pengerjaan yang berbeda-beda.
"Bahan songket itu ada yang katun (benang kapas), polyster (benang pabrik), rayon (benang organik/semi sintetis) sampai dengan sutra (serat protein/kepompong). Nah, yang paling sulit itu adalah menenun sutra, sebab teksturnya alami mudah putus benangnya. Tapi kenyamanan sutra jangan diragukan, makanya harganya sampai terendah itu bisa Rp 4 Jutaan," ujar Rudi.
3. Tenun Sutra Bisa Makan Waktu Berbulan-bulan
Menenun Sutra pun, imbuh Rudi, bisa memakan waktu bulanan. Jauh lebih sulit dibanding mengelola polyester yang bisa memakan waktu seminggu atau dua minggu untuk menyelesaikannya.
Ia mengaku, mematok harga mulai dari Rp400 ribu sampai dengan Rp 5 juta untuk berbagai varian Songket Melayu Batubara.

Songket Melayu masa kini turut mengalami perkembangan. Tak hanya kental dengan nuansa kuning khas raja-raja terdahulu, hijau khas ulama atau hitam yang dikenal sebagai songketnya para pendekar atau pemuda.
Saat ini Songket bisa diaplikasikan sesuai keinginan masyarakat, sehingga tak jarang ada songket yang dikombinasikan dua warna, dengan hiasan benang emas khas Melayu.
4. Setiap Perempuan Batubara Bisa Menenun
Salah satu orangtua yang masih melestarikan Songket Melayu Batubara adalah Fatimah (52). Ia mengaku telah menenun sejak dirinya gadis bersama dengan kakak dan adik-adiknya yang perempuan. Bahkan, masa itu setiap perempuan asli Batubara punya kemahiran menenun.
"Jadi saya dan 5 saudara perempuan lainnya semasa gadis itu bisa menenun semua. Nah, kemudian semuanya itu menikah dan keluar dari kampung. Sementara, karena hanya saya yang di sini, saya lah yang melestarikannya," ujar Fatimah.
Lebih dari 35 tahun sudah Fatimah ikut hadir melestarikan kebudayaan bangsa. Ia menjelaskan memiliki rasa panggilam hati untuk meneruskannya.
Sehari-hari Fatimah menenun menerima tempahan orang lain, atau dipanggil beberapa pengusaha untuk membantu produksi helai demi helai Songket Melayu Batubara.
"Jadi Corak Songket Melayu Batubara terdahulu identik dengan bunga Pucuk Rebungnya. Atau terdapat gambar bunga-bunga besar seperti mawar atau melati. Makanya kalau orang yang udah paham songket udah bisa itu lihat perbedaan Songket Melayu Batubara dengan songket-songket daerah lainnya."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/berbagai-aktivitas-masyarakat-pengrajin-tenun-songket-melayu-batubara.jpg)