Ngopi Sore

Menteri Jokowi di Kedai Kopi

Sebab kebiasaan di Indonesia, ganti bos, program akan ganti juga. Pengalaman pada periode pertama, tentu bisa dijadikan Jokowi sebagai tolok ukur.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ibu Wakil Presiden Mufidah Jusuf Kalla, berfoto bersama sejumlah menteri sebelum acara silaturahmi kabinet kerja di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (18/10/19). 

"Serius boleh. Main-main juga boleh. Serius-serius jambu, lah. Cumak ya, lucu juga, lah, kalok Prabowo betul jadi menteri. Masih mending Fadli Zon. "

"Terus, siapa lagi?"

"Itu, yang menteri luar negeri itu. Siapa namanya?"

Sangkot dan Sudung saling berpandang-pandangan. "Siapa, ya? Siapa Bang Jon?" tanya Sudung.

"Aduh, lupa-lupa ingat aku namanya," kata Jontra Polta. "Sudah di kepala ini. Tapi tak tersebut juga. Pak Guru mungkin ingat?"

Zainuddin bergeming. Tatapnya lekat ke papan catur. Posisinya memang sudah sangat terdesak. Satu bidak dan satu kudanya kembali jadi mendiang. Lek Tuman juga serius. Hendak secepat-cepatnya menuntaskan laga.

"Ali Alatas!"

Suara Ocik Nensi memecah sunyi. "Gitu aja kelen tak tahu. Pelajaran anak SD itu," katanya dari sudut kedai. Matanya tidak lepas dari layar televisi yang sedang mengalirkan sinetron berjudul 'Pembantuku Mantan Model Pelakor yang Fotonya Pernah Dipajang Suamiku di Kamar Mandinya Waktu Muda Dulu'.

Jontra Polta, Sudung, dan Sangkot, berhasil menahan tawa. Namun tidak Jek Buntal. Gelaknya tersembur. "Betul, Cik," katanya di sela tawa. "Pelajaran SD zaman Suharto."

Ocik Nensi tak membalas ejekan Jek Buntal. Suaminya Tok Awang baru tiba dari pasar membawa barang-barang belanjaan untuk keperluan kedai. Dan segera setelah menyusun barang-barang itu, Ocik Nensi kembali ke depan televisi.

Percakapan perihal menteri-menteri sendiri sempat terputus. Pak Ko, penjual buah potong yang kerap ngetem di depan Kedai Tok Awang masuk membawa pesanan, sekaligus kabar, bahwa walau bertanding di kandang sendiri para petaruh justru makin jauh meninggalkan Manchester United di belakang Liverpool. Ada yang mau kasih poor satu, kata Pak Ko.

Namun percakapan Manchester United versus Liverpool, tak dinyana, membawa mereka ke topik semula. Pak Ko, suporter Liverpool garis keras sejak era Bill Shankly, menyebut klub ini berhasil kembali ke trek juara lantaran manajemen mampu membangun kabinet solid.

Kabinet dengan filosofi kerja yang aduhai. Kabinet yang dikendalikan seorang pemimpin yang sangat dihormati tidak saja oleh oleh pembantu-pembantunya, lebih dari pada itu juga "rakyatnya".

Tak seorang pun berupaya menggugat. Tak seorang pun mencoba meributi, menyinyiri, terlebih- lebih mencaci dan memaki. Mereka semua bersatu suara, berdiri di belakangnya, meneriakkan kalimat yang bukan sekadar slogan: In Klopp we trust!

Suporter Liverpool mengusung poster bergambar pelatih Jurgen Klopp, pada laga yang digelar di Anfield, beberapa waktu lalu.
Suporter Liverpool mengusung poster bergambar pelatih Jurgen Klopp, pada laga yang digelar di Anfield, beberapa waktu lalu. (AFP PHOTO/OLI SCARFF)

"Alamakjang, mantap kali, Pak Ko ini, ah! Mantap!" katanya setengah berteriak. Tangannya kembali menyambar bakwan.

"Eh, mantap tinggal mantap, Jek. Kau itung juga udah berapa bakwanku yang kau tekan. Nguyah aja kutengok muncung kau dari tadi," sergah Ocik Nensi.

Kunyahan Jek Buntal seketika terhenti. Matanya membelalak. Potongan bakwan rupa-rupanya menyangkut di tenggorakannya. Untunglah ia bereaksi cepat. Disambarnya gelas berisi es teh manis di depan Jontra Polta, lantas ditenggaknya sampai tandas.

"Hajab kali awak dibikin Ocik Nensi ini. Kurasa di belakang kepalanya itu ada mata juga. Hiii," ujarnya setengah berbisik.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved