Yuk Kunjungi Ekowisata Mangrove di Belawansicanang Medan

YAGASU memberikan pendampingan dan meberikan edukasi bahwa pentingnya Hutan Mangrove.

Tribun Medan/Aqmarul Akhyar
Ekowisata Mangrove di Kelurahan Belawan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Minggu (27/10/2019) 

TRIBUN-MEDAN.com - Sejarah berdirinya kawasan Ekowisata Mangrove di Belawansicanang Kota Medan pada tahun 2013. Hal ini juga tak terlepas oleh Yayasan Gajah Sumatera atau disingkat (YAGASU), yang membantu juga  membangun Ekowisata tersebut.

Selain itu, YAGASU memberikan pendampingan dan meberikan edukasi bahwa pentingnya Hutan Mangrove. Sebab, kelurahan Belawansicanang, merupakan kawasan yang dikelilingi air dengan luas 1.550 Hektar.

Dari luas kawasan tersebut, terdapat kawasan Hutan Mangrove yang tersisa sekitar 895 Hektar. Kemudian pada tahun 2015, masyarakat Kelurahan Belawan Sicanang membuat kesepakatan kawasan Daerah Perlindungan Mangrove Berbasis Masyarakat (DPM), dengan luas sekitar 187 Hektar.

Ekowisata Mangrove sendiri telah diresmikan pada hari Senin, (20/20/2019) oleh Pemerintahan Kota Medan. Begitu juga dengan masyarakat setempat dan YAGASU.  

Ekowisata Mangrove bukan sebagai penahan abrasi dan banjir saja, serta dapat memberikan pertumbuhan perkonomian atau dampak faktor ekonomi pada masyarakat Belawan Sicanang. Dampak faktor ekonomi tersebut, seperti hasil Hutan mangrove yang bisa dikelolah sebagai makanan, semacam kerupuk jeruju, kemudian sebagai minuman jus dan sebagai pewarna batik, serta sebagai ekowisata mangrove.

Dengan dampak  itu, masyarakat mulai menyadari bahwa Hutan Mangrove sangat penting bagi kehidupan. Sebab hampir rata mata pencarian masyarakat kawasan tersebut ialah nelayan. Seperti  menangkap ikan, udang, dan lainnya.

Baca: Ekowisata Mangrove menjadi Nafas Perekonomian Belawansicanang

POKDARWIS lagi pelatihan cara pemandu wisata yang dibimbing oleh YAGASU di Sekolah Alam Ekowisata Mangrove di Kelurahan Belawan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Minggu (27/10/2019).
POKDARWIS lagi pelatihan cara pemandu wisata yang dibimbing oleh YAGASU di Sekolah Alam Ekowisata Mangrove di Kelurahan Belawan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Minggu (27/10/2019). (Tribun Medan/Akhyar Giantoro)

Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) yang didampingi pihak YAGASU sudah mengelolah Hutan Mangrove menjadi ekowisata sekitar 5 Hektar. Kemudian, untuk kawasan DPM seluas sekitar 187 Hakter dibagi tiga zona, seperti zona inti yang luasnya kurang lebih 25 Hakter, zona penyangga dan zona pemanfaatan.

Untuk di zona inti itu terdapat mangrove, biota-biota yang ada disekitar zona itu, seperti binatang babi hutan, monyet, dan ular, serta macam-macam biantang lainnya. Zona inti juga sebagai biowisata Mangrove.

Kemudian, zona penyangga yang diartikan merupakan zona yang menyangga dan kawasan bebas terhadap masyarakat sebagai mata pencarian yang ramah lingkungan. Zona penyangga ini memiliki luas sebantaran sungai sekitar kurang lebih 800 Hektar. Di zona penyangga ini terdapat kurang lebih 21 jenis mangrove,” tuturnya.

Sekolah Alam

Halaman
12
Penulis: Aqmarul Akhyar
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved