Yuk Kunjungi Ekowisata Mangrove di Belawansicanang Medan
YAGASU memberikan pendampingan dan meberikan edukasi bahwa pentingnya Hutan Mangrove.
TRIBUN-MEDAN.com - Sejarah berdirinya kawasan Ekowisata Mangrove di Belawansicanang Kota Medan pada tahun 2013. Hal ini juga tak terlepas oleh Yayasan Gajah Sumatera atau disingkat (YAGASU), yang membantu juga membangun Ekowisata tersebut.
Selain itu, YAGASU memberikan pendampingan dan meberikan edukasi bahwa pentingnya Hutan Mangrove. Sebab, kelurahan Belawansicanang, merupakan kawasan yang dikelilingi air dengan luas 1.550 Hektar.
Dari luas kawasan tersebut, terdapat kawasan Hutan Mangrove yang tersisa sekitar 895 Hektar. Kemudian pada tahun 2015, masyarakat Kelurahan Belawan Sicanang membuat kesepakatan kawasan Daerah Perlindungan Mangrove Berbasis Masyarakat (DPM), dengan luas sekitar 187 Hektar.
Ekowisata Mangrove sendiri telah diresmikan pada hari Senin, (20/20/2019) oleh Pemerintahan Kota Medan. Begitu juga dengan masyarakat setempat dan YAGASU.
Ekowisata Mangrove bukan sebagai penahan abrasi dan banjir saja, serta dapat memberikan pertumbuhan perkonomian atau dampak faktor ekonomi pada masyarakat Belawan Sicanang. Dampak faktor ekonomi tersebut, seperti hasil Hutan mangrove yang bisa dikelolah sebagai makanan, semacam kerupuk jeruju, kemudian sebagai minuman jus dan sebagai pewarna batik, serta sebagai ekowisata mangrove.
Dengan dampak itu, masyarakat mulai menyadari bahwa Hutan Mangrove sangat penting bagi kehidupan. Sebab hampir rata mata pencarian masyarakat kawasan tersebut ialah nelayan. Seperti menangkap ikan, udang, dan lainnya.
Baca: Ekowisata Mangrove menjadi Nafas Perekonomian Belawansicanang
Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) yang didampingi pihak YAGASU sudah mengelolah Hutan Mangrove menjadi ekowisata sekitar 5 Hektar. Kemudian, untuk kawasan DPM seluas sekitar 187 Hakter dibagi tiga zona, seperti zona inti yang luasnya kurang lebih 25 Hakter, zona penyangga dan zona pemanfaatan.
Untuk di zona inti itu terdapat mangrove, biota-biota yang ada disekitar zona itu, seperti binatang babi hutan, monyet, dan ular, serta macam-macam biantang lainnya. Zona inti juga sebagai biowisata Mangrove.
Kemudian, zona penyangga yang diartikan merupakan zona yang menyangga dan kawasan bebas terhadap masyarakat sebagai mata pencarian yang ramah lingkungan. Zona penyangga ini memiliki luas sebantaran sungai sekitar kurang lebih 800 Hektar. Di zona penyangga ini terdapat kurang lebih 21 jenis mangrove,” tuturnya.
Sekolah Alam
Selain sebagai Ekowisata Hutan Mangrove, kawasan tersebut juga telah didirikan Sekolah Alam, dan sebagai tempat edukasi yang diberikan oleh YAGASU. Di Sekolah Alam tersebut, anak-anak masyarakat sekitar bisa belajar bahasa Inggris dan pengenalan jenis-jenis Mangrove yang ada di kawasan Belawansicanang.
Tak hanya pada anak-anak masyarakat sekitar, namun terhadap ibu-ibu dan bapak-bapak masayarakat tersebut juga diberikan pebgajaran di Sekolah Alam. Pangajaranya seperti bentuk cara mengelolah hasil Mangrove, membatik, membuat makanan dari hasil Mangrove, membuat minuman dari hasil Mangrove, mengenal jenis-jenis Mangrove serta membudidayakan Mangrove.
Tarif Berwisata
Sanjutnya, dalam paket wisata di Ekowisata Mangrove Belawansicanang, bawah paket tersebut terdiri, Paket Tour Edukasi dengan nama Ekowisata Edutourism. Kemudian untuk biaya paket tersebut bisa didiskusikan karena terkait jumlah orang atau pengujung yang datang dalam satu paket tersebut serta topik apa yang harus diperdalam.
Tetapi yang jelas Ekowisata Mangrove menyediakan paket secara umum. Nantinya para pelajar atau pun mahasiswa bisa datang di Ekowisata Mangrove untuk menikmati mangrove, dan akan diberikan informasi berkaitan dengan mangrove secara ilmiah, kemudian mereka dapat melakukan reseach mini dan endingnya dengan Mangrove tour.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ekowisata-mangrove-di-kelurahan-belawan-sicanang.jpg)