Ngopi Sore

450 Ton Lem Punker untuk Anak SD di Jakarta

Kilah salah tik dibantah oleh pihak yang sama. Bukan salah tik, melainkan 'anggaran sementara' yang masih bisa berubah.

450 Ton Lem Punker untuk Anak SD di Jakarta
blanja.com
Lem serba guna merek Aica-Aibon 

Saat pertama kali tahu perihal keberadaan lem merek Aibon dalam anggaran belanja Pemerintah Provinsi Jakarta, reaksi saya adalah tak percaya. Tanpa tabayyun, saya menyangka bahwa ini tiada lebih dari lucu-lucuan saja. Semacam prank --dengan atau tanpa Atta Halilintar. Separah-parahnya, hoaks.

Namun setelah memeriksa, dan menunggu berita-berita yang mengetengahkan konfirmasi dari pihak-pihak yang terkait, sangkaan saya ternyata keliru. Ternyata memang benar ada lem merek Aibon dalam usulan anggaran belanja Pemerintah Provinsi Jakarta. Persisnya pada Sukudinas Pendidikan Wilayah 1 Jakarta Barat.

Maka dari tak percaya, saya jadi geli. Bercampur heran. Pertama tentu saja berkenaan dengan anggaran itu sendiri. Anggaran pembelian lem merek Aibon --nama merek lengkapnya Aica-Aibon-- ini terbilang besar. Bahkan boleh dibilang sangat besar. Mencapai Rp 82,8 miliar. Detailnya, lem seharga Rp 184 ribu diperuntukkan bagi 37.500 murid Sekolah Dasar (SD) selama 12 bulan.

Dari mana datangnya angka-angka ini? Mengacu pada harga rata-rata lem Aica-Aibon di pasaran; per Oktober di laman-laman belanja daring, dengan berbagai macam variasinya diperoleh harga termurah Rp 12.000 (berat 70 gram) dan termahal Rp 188 ribu (berat 2,5 kg). Dari angka-angka ini, terdekat dengan angka pada anggaran adalah Rp 188 ribu. Artinya, kemungkinan, lem yang dibeli adalah lem berukuran kaleng paling besar.

Pertanyaannya, untuk apa lem seberat 2,5 kg untuk murid SD? Pertanyaan seperti ini barangkali tidak akan relevan apabila pengadaan lem diperuntukkan bagi siswa-siswa STM/SMK jurusan pertukangan. Namun anak SD? Apa yang mereka lakukan hingga menghabiskan satu kaleng lem Aibon ukuran 2,5 kg setiap bulan selama satu tahun? Apabila hitungannya per tahun, secara matematis, maka jumlah lem yang perlu dihabiskan oleh anak-anak SD di Jakarta adalah 450 ton. Sekali lagi, untuk apa?

Saya sudah lama mengenal lem Aica-Aibon. Dulu, saya menyebutnya lem punker. Saya sebut demikian lantaran tingkah polah sejumlah kawan yang pada waktu itu berupaya meniru-niru gaya rambut Johnny Rotten, vokalis Sex Pistols.

Iya, lem Aibon digunakan untuk menegangkan rambut, memberdirikannya hingga membentuk pola duri landak. Lumayan, jauh lebih ekonomis ketimbang harus membuatnya di salon. Daya tahannya pun lebih lama pula. Lem Aibon bisa membuat rambut tegak berdiri selama tiga hari.

Belakangan, penyalahgunaan lem merek ini makin gawat dan sepenuhnya merusak. Tidak lagi sekadar guyon menyiasati kantong cekak demi gaya. Anak-anak jalanan yang kebanyakan sok nge-punk tanpa berusaha memahami ideologi punk sedikit pun, memabukkan diri dengan cara menghirup uap lem Aibon.

Berdasarkan penelitian medis, lem ini, juga lem Goat Brand (lebih populer disebut Lem Kambing) memang mengandung zat psikotropika. Menghirup uapnya secara berlebih akan mengganggu kesadaran. Menimbulkan efek fly. Efek melayang; mabuk.

Pengakuan lain, anak-anak jalanan ini sengaja melakukannya sebab uap lem mustajab untuk menghilangkan rasa lapar. Sebenarnya rasa lapar ini tidak hilang. Hanya sebangsa sugesti. Dalam mabuk, kata mereka, rasa lapar terlupakan.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved