Curah Hujan Tinggi Picu Tanah Longsor di Dairi, Jalan Tertimbun, Rumah Warga Ambles

Bagian yang ambles adalah bak penampungan air hujan di belakang rumah, yang belakangan difungsikan sebagai kandang babi.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/DOHU LASE
Lide br Hutasoit (kaos biru) memandangi bagian rumahnya yang ambles akibat longsor, Rabu (30/10/2019). 

TRIBUN-MEDAN.COM, DAIRI - Curah hujan yang tinggi di Kabupaten Dairi akhir-akhir ini menyebabkan sejumlah wilayah di Kecamatan Sumbul dilanda longsor.

Di Dusun II Jumaramba, Desa Pegagan Julu VI misalnya. Sebuah rumah, yang dihuni pasangan Jonnar Bakkara (64) dan Lide br Hutasoit (63), ambles sebagian karena longsor.

Pantauan Tribun Medan di lokasi, Rabu (30/10/2019), rumah Jonnar berdiri di bantaran sungai kecil.

Bagian yang ambles adalah bak penampungan air hujan di belakang rumah, yang belakangan difungsikan sebagai kandang babi.

"Longsor terjadi sejak hari Senin (28/10/2019) sebetulnya. Karena curah hujan tinggi, debit air sungai membesar, sehingga sedikit demi sedikit menggerus pinggiran sungai. Pukul 05.00 WIB tadi, bak ini ambles," ungkap Arjan Rudianto Bakkara (33), adik Jonnar, yang ditemui Tribun Medan di lokasi hari itu.

Arjan mengatakan, jika curah hujan tak menurun dan hal ini tak segera ditangani, dikhawatirkan ambles melebar.

"Mau ke belakang pun kami sudah khawatir, karena tanahnya lembek. Bisa-bisa ambles saat kita injak. Padahal, di belakang ini ada dapur dan kamar mandi," kata Arjan.

Mereka berharap, pemerintah turun memberi solusi terkait longsor ini.

"Sepanjang bantaran sungai ini, ada sekitar 18 sampai 20 rumah," ujar Arjan mengakhiri.

Di tempat lain, masih di Desa Pegagan Julu VI, tepatnya di jalan raya Dusun IV Parbuahan menuju Kajaban, terdapat sedikitnya lima titik longsor pada sepanjang jalan.

Material longsor menutup seluruh ruas jalan, sehingga membuat kendaraan bermotor tak bisa lewat.

Menurut warga, kejadian itu berlangsung pada Senin (28/10/2019) lalu.

"Senin (28/10/2019) kemarin kejadiannya, sekitar pukul 19.00 WIB. Waktu itu hujan deras di sini," ungkap Lina br Manalu, warga sekitar.

Akibat jalan tertutup, masyarakat, baik dari arah Kajaban hendak menuju Parbuahan, maupun sebaliknya, terpaksa memutar lewat jalan yang lebih jauh.

"Anak-anak dari kampung sana (Kajaban-red) yang mau ke sekolah di SD Parbuahan atau SMP Sumbul terpaksa lewat dari atas (Desa Pegagan Julu VII-red). Jarak tempuhnya sudah pasti lebih jauh," imbuh Lina.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved