Ngopi Sore

Saya Nonton TVRI Lagi

Helmy Yahya bukan cuma mengubah wajah TVRI di layar televisi. Ia juga mengubah cara pandang para karyawan TVRI terhadap diri mereka sendiri.

internet
Kolase foto-foto tangkapan gambar acara TVRI di tahun 1980-1990-an 

Minggu, 19 Januari 2020, saya duduk di depan televisi menonton pertandingan siaran langsung bulu tangkis Indonesia Master 2020. Saya menonton mulai pertengahan set kedua pertandingan nomor tunggal puteri, Rachanok Intanon melawan Carolina Marin. Waktu menunjukkan pukul 14.15. Ini partai kedua dari keseluruhan lima partai, dan saya kemudian duduk menonton sampai partai penghabisan. Sekitar pukul 19.00.

Setelah itu, tayangan bergeser ke pertandingan lainnya. Indonesia Basketball League (IBL), Prawira Bandung versus Indonesia Patriots.

Kurang lebih empat jam kemudian, di selingi dua acara lain yang saya tonton secara sekadar (sambil lalu mengerjakan aktivitas lain), acara berlanjut ke siaran sepak bola. Siaran langsung juga. Bentrok paling akbar di kancah sepak bola Inggris, Liverpool kontra Manchester United. Laga berkesudahan saat angka-angka jarum jam mendekati pukul dua dinihari.

Semua acara ini mengalir lewat TVRI. Dari Intanon melawan Marin sampai Liverpool kontra United, total televisi di rumah saya tidak berganti saluran selama hampir 12 jam.

Ini jelas satu rekor yang sadis. Sebab sepanjang bisa saya ingat, sebelumnya, tidak pernah ada saluran yang mampu bertahan mengalir tanpa putus, tanpa dijeda, tanpa digeser ke saluran lain, selama itu.

Saat menyadarinya, hampir berselang 2 x 24 jam kemudian pascatanpa sengaja membaca perkembangan kisruh manajerial TVRI, saya merasa takjub sendiri. Bukan hanya karena durasi saluran TVRI yang mampu bertahan tanpa dijeda dan digeser, melainkan juga lantaran pada akhirnya saya menonton TVRI lagi. Benar-benar menonton.

Selama ini, barangkali tak kurang 25 tahun, saya cuma punya satu acara favorit di TVRI. Itu pun tidak sepanjang tahun. Hanya satu bulan; bulan mana pun seturut kehadiran Ramadan. Yakni kumandang azan Maghrib. Usai azan, saluran kembali digeser.

Apa boleh buat. Saat itu, tidak ada satu alasan pun yang bisa membuat saya bertahan tidak menggeser saluran. Memang tidak ada acara yang menarik. Tidak ada yang menghibur. Rata-rata acara yang ditawarkan justru lebih banyak mengingatkan saya pada era orde baru: kaku dan membosankan.

Entahlah, tidak perlu menonton. Mendengar namanya saja, bayangan kekakuan dan kebosanan itu langsung melesat-lesat tanpa saya cegah. Bayangan Toeti Adhitama, Anita Rahman, Rini Sutomo, Sambas, Hasan Ashari Oramahi, Sazli Rais, Yasir Denhas, Yan Partawijaya dan Max Sopacua datang berganti-ganti. Lalu acara 'Dunia Dalam Berita', 'Dari Desa ke Desa', dan pertemuan Kelompencapir di mana Presiden Soeharto bisa bicara tak putus dua jam lamanya. Belakangan sekali saya baru tahu bahwa Kelompencapir ini ternyata merupakan akronim 'Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa'.

Tentu saja ada yang menghadirkan romantisme membubung rindu. Sebutlah 'Selekta Pop', 'Aneka Ria Safari', 'Ria Jenaka', 'Ayo Menggambar', dan juga film-film serial lepasnya. Untuk menyebut beberapa saja ada 'Little House on The Prairie', 'Hawai Five O', 'ChiPs', 'The A Team' dan 'Remington Steele'.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved