Breaking News

Menikmati Kolam Sweembath, Warisan Pemandian Meneer Belanda di Tanah Serbelawan

Menikmati Kolam Sweembath, Warisan Pemandian Meneer Belanda di Tanah Serbelawan

Penulis: Alija Magribi | Editor: Juang Naibaho
Tribun-Medan.com/Alija Agribi
Pemandangan terbaru Sweembath Bahapal, obek pemandian mata air warisan Belanda di Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun. 

Menikmati Kolam Sweembath, Warisan Pemandian Meneer Belanda di Tanah Serbelawan

Laporan Wartawan Tribun Medan/Alija Magribi

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kolam Renang Naga Soppa Sweembath bukan hanya dikenal karena keindahan airnya yang berwarna hijau tosca.

Kolam yang bersumber dari mata air di Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun, itu menjadi kolam kebanggaan warga Nagori Serbelawan dan Bahapal.

Rasa bangga itu menjadi wajar jika merunut jejak sejarah Kolam Renang Naga Soppa Sweembath.

Sweembath punya cerita panjang sebagai warisan para Meneer Belanda yang konon mengelola perkebunan. Sweembath disebut-sebut sudah ada sejak tahun 1887.

Nasikin, salah satu pengelola Sweembath, mengatakan objek wisata ini awalnya ditemukan oleh para raja terdahulu di Tanah Simalungun.

"Kemudian pada tahun 1887, saat Belanda masuk ke sini, ini menjadi kolam pemandian mereka. Orang kita yang menjadi budak gak boleh masuk waktu itu," ujar pria yang sudah ikut mengelola Sweembath sejak tahun 2002 ini.

Nasikin mengaku referensi soal sejarah Sweembath memang masih begitu minim.

Tak ada sumber buku manapun yang secara jelas mengisahkan Sweembath.

Semua yang diceritakan Nasikin merupakan terusan dari beberapa cerita orang tua terdahulu.

Dikisahkan Nasikin, pada 1960-an, saat Kolonial Belanda angkat kaki dari bumi Serbelawan, Sweembath berangsur angsur mulai dinikmati oleh warga Simalungun.

Menilik penamaan Sweembath sendiri, kuat dugaan memang dinamai Meneer Belanda berdasar dari ejaan Belanda untuk menamakan kolam renang, yakni Zwembad.

Secara administrasi Sweembath saat ini berada dalam wilayah PTPN IV. Namun untuk pengelolaan dilakukan oleh kelompok warga, yang mana mengutip biaya masuk Rp 10.000 per pengunjung dan Rp 3.000 untuk parkir sepeda motor serta Rp 5.000 untuk kendaraan roda empat.

Berlanjut soal kondisi kedalaman Sweembath yang mencapai 2,5 meter, Nasikin berujar hal tersebut mengikuti postur orang Belanda yang relatif jangkung bagi ukuran orang Indonesia.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved