Peduli Sampah Sisa Makanan, Mahasiswa USU Buat Usaha Keripik dari Kulit Pisang

Berangkat dari rasa keprihatinan terhadap banyaknya sampah organik sisa makanan, sekelompok mahasiswa USU berinovasi membuat keripik dari kulit pisang

TRIBUN MEDAN/HO
HIDAYAH Fadli (satu di antara pembuat keripik kulit pisang) bersama produk keripik yang mereka namai Thayyiban Chips. 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Berangkat dari rasa keprihatinan terhadap banyaknya sampah organik sisa makanan, sekelompok mahasiswa Universitas Sumatera Utara berinovasi membuat keripik dari kulit pisang.

Mereka terdiri dari mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Fakultas Pertanian.

Hidayah Fadli, satu di antara sekelompok mahasiswa ini mengatakan, inspirasi mereka hingga membuat cemilan dari kulit pisang ini adalah karena banyaknya jumlah sampah yang dihasilkan Kota Medan yakni sebanyak 2000 ton per hari.

Berdasarkan data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), keseluruhan jumlah sampah yang dihasilkan, sebanyak 60 persen merupakan sampah organik atau sampah sisa makanan.

"Awalnya idenya muncul karena melihat banyaknya sampah yang dihasilkan. Misalnya kalau pergi ke pasar itu yang dilihat pasti sampah, kebanyak ssmpsh sisa bahan organik. Makanya dari situ berpikir, masak sih sampah ini benar-benar tidak bisa diolah jadi sesuatu yang bermanfaat," ujar Fadli saat diwawancarai, Rabu (18/3/2020).

Fadli bersama tiga orang rekan lainnya mengaku mendapatkan limbah kulit pisang dari beberapa tempat seperti pasar, penjual pisang goreng, cemilan pisang dibalut tepung (molen) serta beberapa grosir atau pasar lokal.

Ia mengatakan bahwa pisang kulit pisang yang bisa diolah untuk dijadikan keripik tidak boleh yang sudah lepas dari dagingnya lebih dari empat jam.

Hal ini, terangnya menghindarj racun yang terkandung di dalam kulit pisang akibat proses oksidasi.

"Biasa kita dapatkan kulit pisang dari beberapa tenpat. Penjual gorengan, pasar tradisional. Tapi biasa ada yang langganan juga sih, jadi bisa dipastikan kulitnya belum lebih dari empat jam dan masih bisa diolah," katanya.

Mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Student Entrepreneurship Center (SEC) ini mengatakan bahwa dirinya bersama beberapa rekan yang turut merealisasikan ide membuat kulit pisang ini sempat membawa ise usaha kuliner mereka untuk mengikuti ajang kompetisi wirausaha di luar Kota.

Fadli mengaku dirinya sampai saat ini masih terus bereksperimen untuk menyempurnakan resep kulit pisang yang mereka buat agar lebih baik lagi.

"Kita sebenarnya punya tugas masing-masing, ada yang khusus packaging dan pemasaran, ada juga yang khusus dalam proses pembuatan. Nah untuk resep sendiri kita tengah terus berinovasi agar bisa lebih baik lagi," ujarnya.

Keripik kulit yang dibuat sekelompok mahasiswa ini terdiri dari tiga rasa, yakni rasa daun singkong, buah bit, dan original.

Rasa yang dihasilkan ini merupakan campuran dari bahan-bahan yang alami.

Selain mempengaruhi rasa, penggunaan daun singkong dan buah bit juga akan mempengaruhi warna keripik.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved