Ngopi Sore

Didi Kempot (1966-2020): Satu Kepergian yang Men-cidro-kan

Tak perduli se-rock apa pun, se-punk apa pun, tiap kali mengalami patah hati maka yang didengar dan disenandungkan adalah Cidro. Sambil bergoyang.

TRIBUNNEWS/HERUDIN
CAMPUR SARI - Penyanyi Campur Sari, Didi Kempot, saat tampil dalam Festival Berdendang Bergoyang di Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (1/2/2020). Didi Kempot sukses membuat penonton yang kebanyakan anak muda bergoyang dan bernyanyi bersama. 

Saya itu orangnya nrimo saja, ya, Mas. Monggo, silakan dinikmati rezekinya. Kalau rezeki saya pasti akan kembali lagi ke saya.

Kalimat ini diucapkan Didi Kempot atas pertanyaan Abdul Gofar Hilman dalam satu wawancara di Solo, 17 Juli 2019. Gofar, penyiar radio top di Jakarta, mewawancarai Didi untuk Ngobam; Ngobrol Bareng Musisi, konten "cakap-cakap" yang diampunya di YouTube.

"Apakah Mas Didi tidak pernah melakukan tindakan-tindakan?"

Tindakan yang dimaksud Gofar adalah tindakan hukum, menyangkut lagu-lagu Didi Kempot yang dibawakan oleh entah berapa banyak penyanyi dengan bermacam ragam versi, yang bahkan kadangkala tanpa sama sekali menyebutkan namanya sebagai pencipta. Padahal sebagian di antara mereka mendapatkan keuntungan finansial dari versi-versi caplokan itu.

Didi Kempot, dengan intonasi suara datar dan tenang, menyebut dia bukan orang yang ngotot- ngotot amat menerapkan aturan mengenai hak cipta. Dia bahkan tak paham perihal performing right. Dia cuma ingin dihargai sebagai pencipta yang untuk menyelesaikan satu lagu saja seringkali sampai harus bermalam-malam tidak tidur. Menghabiskan bergelas-gelas kopi. Dan bentuk penghargaan ini tidak harus uang.

"Kalau ada yang datang, Mas Didi aku mau pakai lagu ini boleh enggak? Kamu punya duit enggak? Nggak punya, Mas. Ya, sudah, ganti beras sama kripik saja."

Kalimat-kalimat ini memang diutarakan Didi Kempot sembari tertawa-tawa. Diselingi guyon khas Jawa. Bukan "curhat" yang mendayu-dayu atau penuh hentak kemarahan. Namun dampaknya ternyata sungguh luar biasa. Bukan saja terhadap Didi Kempot, lebih jauh juga pada dangdut itu sendiri. Persisnya, perubahan cara pandang generasi yang bahkan belum lahir tatkala lagu lagu semacam 'Cidro' atau 'Pamer Bojo' diciptakan. Bukan cuma memunculkan istilah 'Sad Boy' dan 'Sad Girl', atau yang paling fenomenal, 'Sobat Ambyar'.

Lihatlah pada video-video yang beredar pascapenayangan Ngobam --sampai saat ini sudah menembus angka 5 juta penonton. Konser-konser Didi Kempot, besar maupun kecil, selalu penuh sesak dan sulit menemukan penonton seusia Didi Kempot di sana. Anak-anak muda mendominasi. Anak-anak muda dari generasi usia milenial akhir dan alpha awal. Antara 15-30 tahun.

Dan mereka semua berjoget, benar-benar berjoget, seraya melantunkan syair lagu-lagu Sang Godfather of Broken Heart, kata per-kata.

BERGOYANG - Sobat Ambyar, penggemar penyanyi Didi Kempot bergoyang dan ikut bernyanyi saat penampilan Didi Kempot di Synchronize Festival 2019, di Gambir Expo Jakarta, Jumat (5/10/2019).
BERGOYANG - Sobat Ambyar, penggemar penyanyi Didi Kempot bergoyang dan ikut bernyanyi saat penampilan Didi Kempot di Synchronize Festival 2019, di Gambir Expo Jakarta, Jumat (5/10/2019). (TRIBUNNEWS/HERUDIN)

Kenyataan yang jadi lebih luar biasa sebab pemandangan seperti ini tidak cuma terjadi di konser konser di Jawa (dalam pengertian "ngawur" bahwa yang disebut 'Jawa' adalah Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Jawa Timur saja), tapi juga di luar Jawa. Anak-anak muda di ketiga 'Jawa' tadi tentu tak asing pada Didi Kempot, atau Denny Caknan, atau Guyon Waton, atau NDX Aka, misalnya.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved