Breaking News:

Dua Tahun Jalani Ramadan di Delft, Shauma Kagum Toleransi Beragama Warga Lokal

Komunitas muslim Indonesia di Delft tetap menghidupkan Ramadan dengan mengadakan kajian atau ceramah online dan Tadarus online setiap hari.

TRIBUN MEDAN/HO
DOKUMENTASI Shauma di kegiatan tahunan petik bunga tulip diDelft saat musim semni tahun 2019. 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Berpuasa di negeri orang selalu memiliki kisah tersendiri yang dirasakan oleh mereka yang menjadi anak perantauan. Diantaranya ada Shauma Lannakita yang menjalani Ramadan di Delft, Belanda.

Shauma menetap di Delft sejak awal tahun 2019 untuk melanjutkan studi di Delft, Belanda bersama suami dan seorang anaknya.

Bagi Shauma, Delft bukan menjadi kota pertama jalani Ramadan jauh dari tanah air.

Sebelumnya ia juga sudah pernah memiliki pengalaman puasa saat menjalani studi magister di Leiden University, Belanda pada tahun 2014 hingga 2015.

"Kami tinggal di Delft sudah lebih dari setahun. Dulunya, saya dan suami sempat tinggal di Leiden. Setelah selesai sekolah master, kami pulang ke Indonesia. Kemudian di awal tahun 2019, kami kembali ke Belanda untuk melanjutkan studi," ungkap Shauma, Rabu (13/5/2020).

Shauma mengungkapkan bahwa awal jalani Ramadan di Belanda butuh banyak penyesuaian terlebih kondisi lingkungan dan durasi jam berpuasa yang sangat berbeda ketika berada di Indonesia.

"Pertama kali merasakan Ramadan, kami melaksanakannya di musim panas sehingga suhu cukup tinggi dan matahari tetap bersinar hingga lewat pukul 10 malam. Saat itu, Subuh juga dimulai sebelum pukul tiga pagi sehingga rentang waktu antara berbuka dan sahur cukup sedikit," ujarnya.

Gadis kelahiran Sumatra Utara ini merasa beruntung lantaran jauh dari tanah air namun ia tidak dijauhkan dari masjid. Shauma menuturkan bahwa ia tinggal berdekatan di dua masjid yang berjarak tidak sampai satu kilometer.

Penjual Pernak Pernik Ramadan Terapkan Physical Distancing, Batasi Pengunjung Hanya di Depan Toko

"Saya cukup beruntung untuk tinggal di daerah yang dekat sekali dengan Masjid, tapi tidak semua orang mendapatkan kemudahan demikian. Yang satu hanya berjarak 450m dan 800m. Alhamdulillah saya tidak memiliki kendala untuk beribadah ke masjid," tuturnya.

Namun, Shauma yang memiliki anak kecil ini lebih memiliki jalani tarawih di rumah lantaran salat Tarawih dimulai setelah isya di sekitar pukul setengah 12 malam.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved