Breaking News:

Manfaatkan Ratusan Ecobrick, Anak Dampingan PKPA Medan Sulap Sampah Plastik Jadi Taman Kreativitas

Ide awal pembuatan taman ecobrick ini bermula dari kecintaan anak-anak membuat ecobrick namun tidak tahu harus bagaimana untuk dipergunakan.

TRIBUN MEDAN/KARTIKA
KEGIATAN pembuatan ecobrick dan pengolahan sampah plastik oleh anak-anak dampingan Yayasan PKPA Medan di taman ecobrick di Jalan Pintu Air IV, Kwala Bekala, Kecamatan Medan Johor, Sabtu (22/8/2020). 

Tri bun-Medan.com, Medan - Pemanfaatan ecobrick saat ini tidak hanya dilakukan untuk mengurangi sampah plastik, namun kini sudah banyak masyarakat yang melakukan inovasi sebagai bahan untuk funiture.

Inovasi ini dilakukan oleh anak-anak dampingan dari Yayasan Pusat Kajian dan Pengembangan Anak (PKPA) Medan yang berdomisili di Jalan Pintu Air IV, Kwala Bekala, Kecamatan Medan Johor dengan membuat taman dan sofa ecobrick.

Staf Advokasi PKPA, Devi Jurayah atau akrab dipanggil Juju ini mengungkapkan, ide awal pembuatan taman ecobrick ini bermula dari kecintaan anak-anak membuat ecobrick namun tidak tahu harus bagaimana untuk dipergunakan.

"Kita awal mulanya belum tahu sebenarnya mau buat apa dari ecobrick ini. Terus karena ternyata anak-anak begitu antusias dalam membuat ecobrick ini tidak hanya anak-anak tapi juga orangtua dampingan untuk buat ecobrick. Hingga akhirnya ecobrick ini jadi banyak terus kita berpikir kalau kita buat masing-masing di rumah tapi tidak ada hasil nyata di daerah tersebut seperti ada yang kurang pas juga. Akhirnya kita berinisiatif untuk buat taman kecil agar dapat dinikmati oleh penduduk di gang ini dan akhirnya anak-anak setuju hingga kita realisasikan untuk buat taman ini," ungkap Juju, Sabtu (22/8/2020).

Dari amatan Tri bun Medan, anak-anak tampak bersemangat untuk mendengarkan arahan dari Yayasan PKPA untuk pembuatan ecobrick dan aksesoris dari bahan bekas di taman ecobrick.

USU Perpanjang Masa Pendaftaran Bantuan UKT Mahasiswa Terdampak Covid-19 hingga 31 Agustus

"Hari ini kita buat manik-manik dan plastik yang digabungi dalam rangka mengikuti lomba upcycling fashion design. Jadi teman-teman tim lagi berdiskusi ingin membuat apa dan juga bagaimana konsep video yang keren dan menarik ala milenial tapi tetap mengurangi sampah plastik," kata Juju.

Juju menuturkan bahwa proses pembuatan taman ini hanya membutuhkan waktu sebentar namun pembuatan ecobrick hingga terkumpul semua inilah yang memerlukan waktu hingga terkumpul 180 ecobrick untuk dijadikan sebuah taman.

"Namanya proses pembuatan pasti ada plus dan minusnya ya. Kalau kesulitan pembuatannya ketika kita salah hitung nih bahwasannya ecobrick yang kita butuhkan ternyata harus lebih banyak dan akhirnya kita kejar target dan buat ecobrick. Anak-anak ini setiap harinya juga punya target untuk menyetorkan ecobrick ini," ujarnya.

Bagi anak-anak yang mayoritas berada di lingkungan sampah plastik ini, Juju menilai mereka tidak mengalami kesulitan bahkan mereka dapat membuat satu ecobrick per hari.

"Kalau proses pembuatan sampah ecobrick ini adik-adik disini juga sudah pada jago dan di sekitar sini juga banyak sampah plastik jadi tidak perlu ribet untuk mencari sampahnya, Masing-masing dari mereka pergi harinya bisa buat satu ecobrick," ucap Juju.

Gelar Kompetisi Podcast, Ruang Mahasiswa Ajak Pelajar Sampaikan Gagasan Tentang Merdeka Belajar

Taman ecobrick ini terdiri dari satu meja bulat dan beberapa kursi dengan menjadi kan bahan ecobrick sebagai pengganti batu bata. Tampak terlihat dengan ecobrick yang dijadikan bahan untuk pengokoh semen tersebut mampu berdiri tegak walau tidak menggunakan bara sekalipun.

Satu diantara anak yang antusias dalam membuat kreasi di taman ecobrick yaitu Angelica Rani.

Rani mengungkapkan rasa senangnya sekarang ada taman ecobrick yang menjadi wadah mereka untuk berkreasi dalam membuat ecobrick ataupun kegiatan lainnya.

"Ini lagi buat ecobrick. Kalau buatnya setiap hari tapi tergantung kalau ada mau mengerjakan ecobrick kita kerjakan tugas sekolah dulu baru ikut buat ecobrick. Buat ecobrick ini senang karena buatnya juga tidak susah juga dengan ditusuk pakai kayu sampah plastiknya biar padat," pungkas Rani.(cr13/tribun-medan.com)

Penulis: Kartika Sari
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved