Pelatih Bayern Flick yang tak Tertandingi
Awalnya pelatih sementara, ujungnya treble winners mengulangi pencapaian pelatih legendaris, Jupp Heynckes pada 2012-2013.
Ya, setelah dipermalukan 1-5 oleh Frankfurt, Flick langsung memberikan hiburan baru dengan dua kemenangan beruntun lewat skor identik 4-0. Setelah Dortmund, korban berikutnya adalah Fortuna Duesseldorf.
Memang, setelah itu Bayern sempat kalah beruntun dua kali. Masing-masing ditekuk Leverkusen 1-2, dan Borussia M'Gladbach 1-2 pada 7 Desember 2019.
Setelah itu, tak ada lagi kekalahan. Ya, di berbagai kompetisi Die Rotten terus melaju dengan kemenangan. Hanya sekali mereka tertahan 0-0 oleh Leipzig. Selebihnya menang, dan menang.
Termasuk juga di Liga Champions ini. Kemenangan 1-0 atas Paris Saint Germain lewat gol Kingsley Coman pada final Liga Champions, Senin (24/8) dini hari menjadi kemenangan ke-11 tanpa putus mereka di panggung terbesar antarklub Eropa musim ini.
Die Rotten mengukuhkan, diri sebagai tim pertama yang mampu menyelesaikan satu edisi UCL dengan memborong 100 persen kemenangan.
• Hancur di Final Liga Champions, Neymar Belum Bisa Sekelas Messi dan Ronaldo
Catatan beruntun tersebut menjadi rekor baru dalam sejarah kompetisi, melampaui 10 kemenangan beruntun Real Madrid pada 2014-2015, dan Bayern sendiri pada 2013.
Flick tak hanya mengembalikan Bayern ke jalur kemenangan. Lebih dari itu, dia telah mengembalikan ruh Die Rotten sebagai tim yang terstruktur: tekanan tinggi, umpan-umpan pendek, ketengan bermain, penguasaan bola, dan serangan balik cepat, semua itu menjadi andalan Bayern.
Namun hal paling besar yang dirombak Flick di Bayern adalah membangun kembali kepercayaan. Kepercayaan kepada para penggawa senior Die Rotten,Thomas Müller, Manuel Neuer dan Jerome Boateng, semuanya menikmati musim kebangkitan.
Juga kepercayaan kepada para pemain muda, Joshua Kimmich diberi peran favoritnya di lini tengah, dan Alphonso Davies diberi kesempatan untuk berkembang menjadi bek kiri paling berbahaya di dunia.
Termasuk yang jenius adalah saat menempatkan pemain muda, Kingsley Coman sebagai starter pada final kemarin.
Ini sungguh di luar perkiraan. Pasalnya, sejak restart, posisi winger kiri terus ditempati Ivan Perisic.
Strateginya berhasil. Coman menjadi pahlawan kemenangan berkat tandukannya pada menit ke-59 memanfaatkan umpan Kimmich.
Ironisnya adalah, Coman ini jebolan akademi PSG yang delapan tahun menimba ilmu di sana. Sempat empat kali membela PSG senior, sebelum dilepas secara gratis ke Juventus, dan akhirnya menjadi bintang di Bayern.
Bayern pun meraih trofi Liga Champions keenam kalinya. Sebelumnya mereka mengangkat trofi kuping lebar tersebut pada 1974, 1975, 1976, 2001, dan 2013.
Tujuh tahun tanpa gelar Liga Champions. Pelatih kawakan seperti Carlo Ancelotti, dan Pep Guardiola pun gagal memenuhi harapan tertinggi klub.
Baru di tangan Flick hal itu berhasi diwujudkan. Yang membuat tim elite lain gemetar adalah, ini baru langkah awal dari Flick. Musim depan, ia kembali dengan persiapan yang pastinya jauh lebih matang. (tribunnews/den)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/munchen-juara-liga-champions.jpg)