Breaking News:

Berkah Hutan Mangrove, Penopang Ekonomi Warga Bagan Serdang di Tengah Pandemi

“Seluruh pendapatan akan masuk ke kas kelompok. Siapa anggota yang terlibat akan diberikan honor sesuai dengan beban kerjanya,” kata Rahmadsyah.

Penulis: Truly Okto Hasudungan Purba | Editor: Royandi Hutasoit
Risky Cahyadi / Tribun Medan
Sejumlah perempuan yang tergabung dalam Kelompok Eco Woman mengolah daun mangrove jeruju menjadi produk kerupuk di rumah Kelompok Eco Woman, Desa Bagan Serdang, kecamatan Pantai Labu, Deliserdang, Kamis (15/10/2020). 

TRIBUN-MEDAN.com, DELISERDANG - Keberadaan hutan mangrove tak bisa dibantah memiliki peranan penting bagi lingkungan khususnya bagi pesisir pantai. Tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak di garis pantai, hutan mangrove memiliki manfaat tak sedikit, diantaranya mencegah intrusi air laut, mencegah erosi dan abrasi pantai, serta berperan dalam pembentukan pulau dan menstabilkan daerah pesisir.

Seiring berjalannya waktu, hutan mangrove kini tak melulu dipandang bermanfaat dari sisi lingkungan saja. Lebih dari itu, keberadaan hutan mangrove mampu memberdayakan perekonomian warga sekitar.

Gerakan sederhana yang dilakukan warga Desa Bagan Serdang, kecamatan Pantai Labu, kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara telah memberikan harapan baru.  Potensi hutan mangrove dimanfaatkan sebagai ekowisata mangrove dan diolah menjadi produk makanan yang bernilai ekonomis. Kehidupan warga kini tetap berseri, meski pandemi Covid-19 tak tahu ujungnya ada di mana.

SAADAH (38) terlihat begitu hati-hati memotong daun jeruju yang ada di hadapannya. Duri –duri kecil nan tajam yang ada di ujung daun bisa membuat jari berdarah kalau kalau tak hati-hati memotongnya. Dengan cekatan dan tak sampai 15 menit, Saadah mampu memotong daun jeruju dari sekitar 20-an batang pohon dan memisahkannya dari batang daun, membuang duri di ujung daun, dan kemudian memotong kecil-kecil daun jeruju tersebut.

Disampingnya Maemunah (29) menerima potongan kecil daun tersebut, mencucinya dengan bersih, merebusnya hingga mendidih, dan membuang sisa air rebusan lewat saringan. Daun jeruju tersebut dicampur dengan adonan tepung kanji, tepung roti, mentega, telur, bawang merah, garam, gula, dan udang kecepe.  

Selanjutnya, Maemunah mencampur seluruh adonan hingga menjadi lembut. Adonan kemudian dibentuk bulat-bulat, dipipihkan tipis-tipis dengan menggunakan ampia, dan dipotong kecil-kecil. Tugas selanjutnya kemudian berpindah ke Ilia. Perempuan 47 tahun ini menggoreng adonan menggunakan api tak terlalu besar.

Produk olahan kerupuk mangrove dari daun jeruju selesai diolah dan dikemas. Produk dengan brand “Menggoda” ini hasil karya perempuan Desa Bagan Serdang yang tergabung dalam Kelompok Eco Woman.
Produk olahan kerupuk mangrove dari daun jeruju selesai diolah dan dikemas. Produk dengan brand “Menggoda” ini hasil karya perempuan Desa Bagan Serdang yang tergabung dalam Kelompok Eco Woman. (Risky Cahyadi / Tribun Medan)

Seperti itulah aktivitas harian para perempuan yang tergabung dalam Kelompok Eco Woman (Ekonomi Wisata Mangrove) yang ada di Desa Bagan Serdang. Mereka memanfaatkan keberadaan hutan mangrove dengan mengolah daun-daun mangrove menjadi produk makanan dan minuman. Para perempuan ini berbagai tugas, ada yang mengambil bahan dasar yakni daun mangrove dari hutan mangrove, ada yang membuat adonan, menggoreng kerupuk, hingga mengemasnya dalam wadah plastik.

Ketua Kelompok Eco Woman (Ekonomi Wisata Mangrove), Saadah mengatakan, aktivitas pembuatan kerupuk mangrove ini sudah dilakukan sejak tahun 2018 lalu, tetapi sempat berhenti selama hampir dua tahun dikarenakan manajemen kelompok yang tidak tertata dengan baik.

“Bulan April 2020 lalu kami aktif kembali berproduksi. Awalnya, Pertamina masuk ke desa ini lewat program CSR. Kelompok pun dibentuk kembali. Kami dilatih selama tiga bulan dalam pengolahan pembuatan produk makanan dan minuman berbahan dasar mengrove.  Kini setelah kelompok aktif kembali, ada 16 perempuan dari beberapa dusun di Desa Bagan Serdang yang menjadi anggota,” ujarnya.

Saadah bercerita, sehari-harinya, perempuan yang tergabung dalam Kelompok Eco Woman tak hanya memproduksi kerupuk, tetapi juga olahan lainnya yang berbahan dasar daun mangrove seperti sirup, selai, dan dodol. Seiring berjalannya waktu, olahan produk tak hanya berbahan dasar daun mangrove saja, tetapi juga ikan laut dengan menghasilkan produk seperti abon ikan dan sosis ikan.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved