Breaking News:

Ngopi Sore

Pak Jokowi, Tolong Jabatan Pak Luhut Jangan Ditambah Lagi

Ia baru kembali ke gelanggang politik di masa “ramai-ramai” Pemilu Presiden 2014. Jokowi menang dan Luhut Binsar Panjaitan masuk kabinet.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Tribunnews/Irwan Rismawan
LUHUT Binsar Panjaitan saat tiba di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, jelang pengumuman kabinet, beberapa waktu lalu. 

Edhy Prabowo ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena diduga kongkalikong ekspor benih lobster dan langsung dicopot sebagai Menteri Perikanan dan Kelautan (KKP). Tidak berselang lama, kira-kira 24 jam lewat sedikit, Presiden Joko Widodo mengumumkan penggantinya. Persisnya, pengganti untuk sementara waktu atawa ad interim. Siapa penggantinya? Tiada lain dan tiada bukan adalah Luhut Binsar Panjaitan.

Keputusan Jokowi segera menjadi olok-olok. Terutama sekali di media sosial. Beragam meme pun beredar. Satu yang paling menggelitik adalah meme (berikut kalimat di dalamnya) yang mengadopsi lagu anak-anak berjudul 'Kepala, Pundak, Lutut, Kaki'. Lagu ciptaan Saridjah Niung Bintang Soedibio –kita mengenalnya sebagai Ibu Sud.

Menggelitiknya, lagu yang keseluruhan liriknya cuma mengulang-ulang judulnya ini, dengan sekadar tambahan penyebutan kata 'mata', 'telinga', 'mulut', 'hidung', dan 'pipi' pada bait ketiga, diubah menjadi "kepala, pundak, Luhut lagi, Luhut lagi".

Warganet Indonesia memang terbilang aduhai untuk hal-hal seperti ini. Keisengan dan “kreativitas” mereka sungguh tidak tertandingi. Namun untuk perkara Luhut, saya kira, persoalannya tidak berhenti sebatas pada keisengan kreatif, melainkan juga "tanda tanya" yang berangkat dari kedongkolan, bahkan mungkin saja kegeraman. Luhut lagi, Luhut lagi. Apa tidak ada orang lain, Pak Jokowi?

Luhut Binsar Panjaitan lahir di Simargala, satu desa kecil di Toba Samosir, Sumatra Utara, 73 tahun lalu. Setelah pensiun dari dinas ketentaraan dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal, ia menjabat duta besar Indonesia di Singapura sebelum kemudian dipanggil pulang pada tahun 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk mengisi pos Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI. Setahun berselang, Gus Dur dilengserkan dan sejak itu Luhut ikut menghilang.

Ia baru kembali ke gelanggang politik di masa “ramai-ramai” Pemilu Presiden 2014. Jokowi menang dan Luhut masuk kabinet, menjabat Kepala Staf Kepresidenan. Setahun saja, lantaran Jokowi kemudian menunjuknya sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, Dan Keamanan RI, lalu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman.

Artinya, dalam satu periode kepemimpinan Jokowi ia dipercaya memimpin dua pos kementerian dan satu pos setara kementerian. Ini belum terhitung pos Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Ketika itu, Arcandra Tahar dihadapkan pada polemik perihal kewarganegaraan yang berlarut-larut dan akhirnya terpaksa dipinggirkan.

Pemilu 2019 Jokowi menang lagi, dan Luhut Panjaitan, tentu saja, masuk kabinet lagi. Posnya kali ini adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Publik, terutama warganet, mulai menabalkan julukan ‘Menkosaurus’ atawa Menteri Koordinator Segala Urusan, setelah Presiden Jokowi menunjuk Luhut sebagai pejabat pengganti sementara Menteri Perhubungan. Saat itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memang harus berhenti total beraktivitas lantaran terjangkit Covid-19.

Tak berselang lama, presiden juga menugaskan Luhut untuk masuk ke dalam Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, sekaligus membawahi pengawalan penanganan pandemi di sembilan provinsi yang dinilai paling parah. Tugas yang tidak main-main.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved