Covid 19
Pelajaran dari Pandemi: tentang Semangat dan Kekuatan Kemanusiaan
Sangat banyak pula yang bergerak dalam senyap. Individu-individu yang memiliki semangat yang sama untuk membantu.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Ghiffari Sakti Simatupang baru dua pekan membuka Akhirnya Coffee –kafe di Jalan Sei Putih, Medan, yang menyajikan aneka racikan kopi sebagai andalan– tatkala virus Corona mulai masuk dan menyerang Indonesia secara brutal. Dari nol kasus, pertambahan angka positif Covid-19 melesat sangat cepat. Korban berjatuhan dan seiring itu muncul berbagai isu liar yang menciptakan kepanikan-kepanikan.
"Jujur saja, saya juga ikut panik, dan bingung. Saya sempat menutup usaha," katanya.
Sepekan lebih Akhirnya Coffee tutup, Ghiffari memutuskan membukanya kembali. Dua poin jadi pertimbangan. Pertama, ia punya pegawai yang membutuhkan penghasilan.
"Saat itu sudah mau masuk (bulan) Ramadan, tak lama lagi lebaran, hari raya. Meski sedang dalam situasi tak menentu, saya tidak mau pegawai-pegawai saya menyambut hari besar itu dalam keprihatinan. Paling tidak.ada, lah, mereka mengantongi duit sedikit-sedikit," ujarnya.
Poin kedua, dia ingin ikut memberi sumbangsih dalam upaya memerangi Covid-19. “Waktu kafe tutup, saya berpikir bagaimana bisa tetap memutar roda bisnis sembari ikut berbuat sesuatu untuk membantu pemerintah menangani pandemi,” ucapnya.
Ghiffari menemukan satu jalan. Ia membuka layanan pemesanan via daring. Berbekal jejaring yang lumayan luas, terutama di kalangan anak muda, konsep Ghiffari berjalan mulus. Kopi-kopi racikan Akhirnya Coffee, dalam cangkir (cup) maupun botol, diantar kurir ke rumah-rumah warga Kota Medan yang saat itu sebagian besar mengisolasi diri dan menjalankan aktivitas pekerjaan dari rumah.
Roda bisnisnya berputar lagi. Seiring itu, Ghiffari mulai menjalankan niatnya untuk membantu pemerintah menangani Covid-19. Caranya?
"Saya bukan pekerja medis. Saya pebisnis kuliner. Di awal-awal masa pandemi, selain tenaga medis dan obat-obatan, yang sangat dibutuhkan juga makanan. Termasuk makanan bagi para petugas medis yang saat itu benar-benar tengah berjuang habis-habisan di rumah sakit," katanya.
Ghiffari kemudian mengirimkan 50 cangkir kopi racikan dan 50 porsi makanan secara gratis ke dua rumah sakit penanganan Covid-19 yang menjadi rujukan Pemerintah Provinsi Sumut yakni Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H Adam Malik dan RSU GL Tobing. Ia melakukannya tanpa putus selama dua pekan.
Memasuki pekan ketiga, sejumlah pihak yang mengetahui aksi Ghiffari tergerak ikut memberikan donasi.
"Ada dari kepolisian, dari kwartir Pramuka, dan beberapa instansi pemerintahan maupun perusahaan swasta. Tambahan dana ini membuat jumlah makanan dan minuman yang kami kirimkan jadi makin banyak. Kami pun sempat kirim ke beberapa rumah sakit lain yang juga merawat pasien-pasien Covid," ujar Ghifari seraya menambahkan aktivitas ini berlangsung selama kurang lebih dua bulan.
"Setelah dua bulan pemerintah sudah stabil, ya. Tata kerja dan tata kelola penanganan pandemi yang dilakukan, termasuk di rumah sakit, sudah jauh lebih baik. Ketersediaan makanan dan minuman juga tidak lagi menjadi kendala," katanya.
Sedikit Sama Dibagi
Irsan Mulyadi sedang duduk di beranda rumahnya di Jalan Tani Asli, Gang Samin, Kampung Lalang, Kecamatan Sunggal, Deliserdang, tatkala benaknya mendadak terusik oleh satu berita di sebuah situs yang baru saja ia baca. Berita tentang sejumlah keluarga prasejahtera yang mengeluhkan pembiayaan tambahan yang mesti dikeluarkan untuk internet lantaran anak-anak mereka terpaksa mengikuti sekolah secara daring.
Iya, terpaksa, lantaran memang inilah satu-satunya pilihan. Pandemi Covid-19 yang meraja dan telah memakan banyak korban, langsung maupun tak langsung, membuat pemerintah mengambil langkah ekstrem: seluruh aktivitas belajar dengan sistem tatap muka di sekolah (juga di kampus) ditiadakan. Diganti daring, lewat sejumlah aplikasi pertemuan virtual digital seperti Google Meets atau Zoom.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/covid3.jpg)