Covid 19
Pelajaran dari Pandemi: tentang Semangat dan Kekuatan Kemanusiaan
Sangat banyak pula yang bergerak dalam senyap. Individu-individu yang memiliki semangat yang sama untuk membantu.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Di satu sisi, langkah ekstrem ini efektif dalam menekan laju pergerakan angka positif Covid-19. Tanpa aktivitas rutin di sekolah, potensi untuk membentuk kerumunan-kerumunan jadi berkurang. Tanpa kerumanan tidak ada interaksi, dan tanpa interaksi persentase kemungkinan virus menjangkiti makin kecil.
Namun di sisi lain muncul masalah baru. Indonesia bukan negara yang berada di jajaran terdepan dalam perkara kemudahan internet. Lembaga riset Opensignal, pada 2019, menempatkan kualitas internet 4G kita –dalam hal ini ukurannya adalah kecepatan (Megabit per-second atau Mbps)– di peringkat 72 dari 77 negara.
Ini ironis, sebab jika parameternya adalah pengguna, Indonesia berada di urutan ketiga Asia dan nomor lima dunia, di bawah China, India, Amerika Serikat, dan Brasil.
Tarifnya? Baru-baru ini, satu situs pemeringkatan dan perbandingan dari Inggris, cable.co.uk, merilis hasil analisis mereka terhadap tarif-tarif internet di dunia, The Cost of Fixed-Line Broadband in 206 Countries. Indonesia berada di peringkat 54 dengan tarif rata-rata USD 30,02 atau Rp 410.300 per-bulan.
Mahal dan murah jika tolok ukurnya adalah sempit luas kantong barangkali jadi relatif. Uang Rp 410.300 untuk sebagian orang mungkin murah-murah saja, tapi bagi sebagian yang lain bisa saja dianggap mahal. Namun berapa banyakkah yang menganggap murah dan berapa banyak pula yang menilai mahal? Belum ada survei yang valid, tetapi kencangnya pemberitaan yang mengangkat keluhan sedikit banyak bisa memberi gambaran.
"Membaca berita itu saya jadi berpikir, keluhan serupa mungkin saja sebenarnya ada di sekitar saya," kata Irsan Mulyadi.
Selain itu, Irsan, fotografer Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, merasa ada sesuatu yang menggelegak di relung ingatannya. Sesuatu yang selalu ia simpan sebagai kenangan, sekonyong-konyong muncul kembali.
"Saya pernah hampir putus sekolah karena orang tua saya kesulitan untuk membiayai. Waktu itu orang tua saya, ibu saya, bekerja tidak tetap. Kadang-kadang berjualan. Kadang-kadang menjadi asisten rumah tangga," ucapnya.
Satu hari, saat sang ibu benar-benar tidak lagi memiliki uang untuk membayar keperluan sekolah Irsan, ia tanpa sengaja menuturkan kesusahan ini kepada kepala rumah tangga di mana ia bekerja.
"Beliau seorang dokter yang baik hati. Waktu ibu saya bilang bahwa saya terpaksa akan berhenti sekolah, dia malah marah, dan bilang sekolah saya tidak boleh berhenti. Harus diteruskan. Dia yang akan membiayai semuanya. Walau pun kasusnya tidak sama, kesusahan yang dialami anak-anak yang orang tuanya tidak mampu menyediakan fasilitas untuk belajar daring ini, membuat saya ingat pada kenangan tersebut," kata Irsan.
Saat itu juga ia memutuskan untuk berbuat. Irsan berlangganan Wi-Fi bulanan, dan selama ini, menurutnya, hampir-hampir tidak pernah digunakan secara maksimal.
"Sehari-hari saya dan istri saya saja yang pakai, untuk bekerja. Paling-paling tambahan untuk kami berinteraksi di media sosial atau menonton film dan mendengarkan musik. Kami tidak punya jaringan yang tak terbatas. Sebaliknya, sangat terbatas. Namun saya kira, yang sedikit ini, akan lebih baik dan bermanfaat apabila dibagi," ujarnya.
Irsan kemudian berbicara pada tetangga-tetangganya, mengemukakan tawarannya, dan segera mendapatkan sambutan baik. Perkiraan Irsan ternyata tidak meleset jauh. Memang tak sedikit anak-anak usia sekolah di seputaran kediamannya yang kesulitan dalam mendapatkan akses internet. Belajar daring, kata mereka, banyak biaya. Satu kali atau paling banyak dua kali pertemuan virtual bisa langsung menghabiskan kuota paket hemat. Padahal biasanya pemakaian kuota tersebut (dipakai bersama orangtua mereka) baru habis paling cepat dua pekan.
Jadi bagaimana? Menurut Irsan, mereka rata-rata pasrah. Kalau ada uang beli lagi. Kalau tidak, ya, tidak ikut kelas. Toh mereka berkeyakinan, di masa pandemi, sekolah-sekolah tidak akan bersikap kejam untuk memberikan hukuman tinggal kelas kepada siswa atau murid yang absen dari kelas daring lantaran tak bisa mengakses internet.
"Namun masalahnya, kan, bukan terletak pada tinggal kelas dan tak tinggal kelas, melainkan bagaimana agar di masa pandemi tiap siswa tidak tertinggal pelajaran," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/covid3.jpg)