Covid 19

Pelajaran dari Pandemi: tentang Semangat dan Kekuatan Kemanusiaan

Sangat banyak pula yang bergerak dalam senyap. Individu-individu yang memiliki semangat yang sama untuk membantu.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Tribun Medan/Riski Cahyadi
SEORANG anak belajar daring menggunakan jaringan internet gratis yang disediakan warga di Jalan Tani Asli, Sunggal, Kabupaten Deliserdang, Sumatra Utara, beberapa waktu lalu. Lokasi belajar daring dengan jaringan internet gratis dan wajib menerapkan protokol kesehatan tersebut dibangun untuk membantu warga yang kesulitan dengan akses dan biaya internet. 

Maka kemudian Irsan membuka pintu pagar rumahnya lebar-lebar. Dari pukul 08.00 sampai selepas tengah hari. Hampir mirip jadwal sekolah. Di pekarangan, ia menyusun meja-meja berikut bangku. Mengikuti protokol kesehatan, meja dan bangku ini disusunnya dengan jarak tertentu. Ia juga menyediakan tempat cuci tangan. Siapapun yang hendak masuk diwajibkan untuk mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer. Satu lagi yang wajib, pemakaian masker.

Sekali waktu datang seorang anak. Tidak seperti anak-anak lain yang membawa perangkat telepon selular, anak ini tangan kosong belaka. Saat ditanya, bilangnya, sejak hari pertama pelaksanaan sekolah daring dia lebih sering absen karena tidak memiliki ponsel.

"Yang punya ponsel ayah dan ibunya, dan keduanya bekerja. Ayahnya buruh angkut truk, sedangkan ibunya bekerja di satu usaha doorsmeer. Mereka bekerja setiap hari. Jadi, kalau anak ini mau belajar daring, dia harus ikut ibunya ke tempat kerja. Masalahnya, dia tidak bisa ikut ke sana setiap hari," ucap Irsan.

Anak ini kemudian dipinjami Irsan satu unit ponsel. "Kebetulan di rumah ada ponsel android yang jarang dipakai. Jadi saya pinjam pakaikan ke anak tersebut. Setelah selesai belajar dikembalikan," katanya.

Sampai hari ini, pojok belajar di rumah Irsan Mulyadi masih didatangi anak-anak di sekitar kediamannya. Rata-rata yang datang antara lima hingga enam orang. Bahkan pernah sepuluh orang sekaligus. Sampai kapan? Irsan menggeleng.

"Sampai pemerintah masih memberlakukan sistem belajar daring, dan sejauh mereka masih membutuhkan, rumah saya tetap terbuka," ujarnya.

Irsan Mulyadi, Ghiffari, dan pastinya lebih banyak lagi di luar sana, telah telah secara nyata merepresentasikan empati, keikhlasan, dan komitmen. Mereka menunjukkan betapa semangat dan kekuatan kemanusiaan berarti sangat dalam upaya perlawanan terhadap pandemi.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved