Breaking News:

Ngopi Sore

Adalah Hak Mbak Gisel untuk Bercinta

Adalah hak Mbak Gisel untuk bercinta. Mestinya perbuatan ini tak dapat dijerat hukum. Namun hukum berjalan tidak sesederhana menyeplok telur mata sapi

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
TRIBUNNEWS
GISELLA Anastasia 

Begitulah akhirnya artis peran, penyanyi dan model iklan, Gisella Anastasia –polisi masih menyebutnya dengan inisial GA– ditetapkan sebagai tersangka. Ia dijerat Pasal 4 ayat 1 juncto Pasal 29 dan atau Pasal 8 Undang-Undang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi. Gisel dipersangkakan dengan dasar satu video berdurasi 19 detik berisi adegan percintaan yang disebut-sebut dilakukan oleh dirinya bersama seorang laki-laki berinisial MYD. Tidak hanya Gisel, laki-laki itu pun turut dijadikan tersangka.

Adegan dalam video tersebut –yang memang sudah terlanjur beredar luas lewat media sosial– tidak dapat dipungkiri merupakan adegan-adegan pornografi. Dengan kata lain, memenuhi semua syarat untuk disebut demikian.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pornografi dimaknai sebagai 'penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi’. KBBI mencatat makna lain yakni ‘bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi'.

Jika kita berhenti sini, tentu, adegan yang Mbak Gisel lakukan tidak termasuk ke dalam tindak pornografi lantaran tidak ditampilkan dalam bentuk lukisan atau tulisan san bukan bahan bacaan. Adegan Mbak Gisel dan Mas MYD direkam dalam bentuk video, ia ditonton, bukan dibaca seperti membaca novel-novel Enny Arrow, misalnya.

Entah barangkali tak mau mengikuti KBBI yang "ketinggalan", para perancang Undang-Undang mencoba membuat pemaknaan yang lebih luas. Pornografi, sebagaimana dipapar dalam Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 Undang-Undang Nomor 44 tahun 2008, adalah 'gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat'.

Bab yang sama juga menjelaskan perihal jasa pornografi. Apakah itu? 'Segala jenis layanan pornografi yang disediakan oleh orang perseorangan atau korporasi melalui pertunjukan langsung, televisi kabel, televisi teresterial, radio, telepon, internet, dan komunikasi elektronik lainnya serta surat kabar, majalah, dan barang cetakan lainnya'.

Meski cakupannya terkesan lebih luas, dari sisi makna, pada dasarnya pornografi yang dipapar dalam Undang-Undang Nomor 44 tahun 2008 sama kaburnya dengan pemaknaan dalam KBBI. Undang-Undang menyebut '... yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat'.

Lalu di mana letak batas-batasnya? Kecabulan dan eksploitasi seksual yang bagaimana yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat itu? Bukankah ukuran norma dalam masyarakat, terutama di Indonesia yang majemuk, tidak dapat disamaratakan?

Barangkali akan lebih terang apabila kalimat ini dikombinasikan dengan pemaknaan KBBI. Bahwa pornografi adalah '... yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat, dan dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi'.

Nafsu siapa? Tentu saja nafsu pihak di luar perancang dan pembuatnya, hingga dengan demikian, pemaknaan ini akan berkaitpaut dengan pemaknaan jasa pornografi tadi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved