Breaking News:

Ngopi Sore

Kenapa Pak Moel Harus Mencoplok Demokrat?

Jika tujuan Pak Moel adalah memburu kursi presiden, maka terang langkahnya keliru. Langkah yang gegabah dan jauh dari cerdas.

TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO
JENDERAL (Purn) Moeldoko 

LAMA senyap sejak didera kegagalan demi kegagalan dalam serangkaian pemilihan umum pascaberakhirnya dua periode kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden Republik Indonesia, partai yang dipimpinnya; Partai Demokrat, kembali jadi pusat perhatian.

Tak tanggung-tanggung, isunya adalah kudeta. Iya, katakan saja begitu, lantaran sungguh kebetulan konferensi pers yang digelar Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) hampir bersamaan waktunya dengan penggulingan Presiden Win Mynt dan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi oleh militer Myanmar.

Apa yang terjadi di Myanmar telah jelas latar belakangnya dan –kecuali bagi yang ingin mengaitpautkannya dengan kaum Rohingya– rasa-rasanya tak perlu kita campuri terlalu jauh. Pun sebenarnya "kudeta" Partai Demokrat. Ini persoalan internal partai, jadi seyogianya biarlah diselesaikan saja oleh Pak SBY, Mas AHY, dan Mas EBY (Edhie Baskoro Yudhoyono). Toh mereka anak-beranak adalah pemimpin-pemimpin tertinggi partai berlambang mirip logo Mercedez Benz ini.

Pak SBY adalah Ketua Majelis Tinggi, Mas AHY Ketua Umum, dan Mas EBY (Eh, maaf, beliau sebenarnya disapa Ibas) merupakan Wakil Ketua Umum sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR RI.

Namun persoalan internal ini jadi melebar lantaran dalam konferensi pers tersebut, AHY mengatakan kudeta didalangi oleh ‘orang luar’. Lebih gawat, orang yang dituding itu disebut berada di lingkaran dalam Istana Negara. Dengan kata lain, orang dekat Presiden Joko Widodo.

AHY tidak menyebut nama saat itu, tetapi memang tidak perlu waktu lama untuk mengungkap siapa ‘orang luar’ yang ia maksud. Satu nama mengemuka: Jenderal (Purn) Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan.

Bukan cuma nama. Dalam tempo singkat pula, beragam teori yang menjadi latar belakang "peng-kudeta-an" Partai Demokrat turut bermunculan. Paling populer berhubungan dengan Pemilu 2024. Moeldoko disebut hendak mencaplok Partai Demokrat agar dapat menjadi kendaraannya menuju kursi presiden pada pemilu mendatang.

Pak Moel, demikian ia biasa disapa, tentu saja langsung membantah. Lewat konferensi pers pula ia menyebut tudingan yang dilontar AHY dan Partai Demokrat tidak beralasan. Ia mengimbau AHY untuk tidak baperan –istilah anak muda sekarang; akronim [terlalu] terbawa perasaan.

Sampai di sini memang belum tahu mana yang benar dan mana yang ngibul. Namun setidaknya kita bisa menghitung-hitung kemungkinan.

Pertama, kenapa Pak Moel, sekiranya memang berniat memburu kursi presiden pada Pemilu 2024, memilih Partai Demokrat? Apa yang jadi pertimbangannya? Kenapa bukan partai lain? PDI Perjuangan atau Partai Golkar, misalnya. Atau Gerindra atau PKS yang punya basis massa sangat jelas dan besar dan solid pula. Sekali lagi, kenapa harus Demokrat yang notabene flop sejak Pak SBY meninggalkan kursi kepresidenan.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved